FASILITAS DIFABEL : Jumlah Rintisan Desa Inklusi di Kulonprogo Diharapkan Bertambah

Seorang anak berkebutuhan khusus mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dalam kegiatan Jaminan Kesehatan Khusus (Jamkesus) Disabilitas Terpadu di Auditorium Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates, Kulonprogo, Senin (1/8/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
09 Desember 2016 14:55 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Fasilitas difabel di Kulonprogo diharapkan bertambah

Harianjogja.com, KULONPROGO-Rintisan desa inklusi yang sudah diterapkan enam desa di Kecamatan Lendah dinilai sukses membangun lingkungan yang lebih ramah penyandang disabilitas. Program tersebut diharapkan dapat dijalankan oleh desa-desa lain di Kulonprogo.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Kulonprogo, Sarjiya mengatakan, rintisan desa inklusi dikembangkan oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) sejak 2015 lalu. Selain Kulonprogo, SIGAB juga menyasar dua desa lain ke Kabupaten Sleman.

“Kami berupaya menyosialisasikan agar konsep desa inklusi ini bisa diterapkan wilayah lain di Kulonprogo,” kata Sarjiya, Kamis (8/12/2016).

Menurut Sarjiya, program rintisan desa inklusi terbukti mendukung upaya pemenuhan hak penyandang disabilitas. Sistem data kependudukan didesain untuk memuat data yang lebih komperehensif, seperti jumlah dan kondisi warga berkebutuhan khusus.

Data tersebut kemudian menjadi pertimbangan penting dalam mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas, misalnya menyediakan fasilitas umum yang mudah diakses oleh kalangan difabel.