KISAH INSPIRATIF : Melihat Rumah Produksi Tas Kulit Sapi Ini, Maka Anda Tak Lagi Meremehkan Harganya

Pemilik usaha kerajinan tas kulit Vanilla Leather, Stevanny Candra, menunjukkan salah satu produk tas kulit di rumah produksinya, Jumat (9/12/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
11 Desember 2016 15:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Kisah inspiratif datang dari produsen tas kulit di Jogja

Harianjogja.com, JOGJA-Tas berbahan dasar kulit masih mudah dijumpai. Di Jogja sendiri, salah satu perajin tas kulit bisa ditemukan di belakang Terminal Giwangan, tepatnya di Dusun Giwangan-Mrican, Umbulharjo, Jogja.

Tas dengan brand Vanilla Leather tersebut merupakan hasil olah karya seorang perempuan asal Pangkal Pinang, Stevanny Candra yang kini sudah menjadi penduduk Jogja.

Ia bersama 10 karyawannya aktif memproduksi tas kulit setiap hari. Kulit yang digunakan adalah kulit sapi kualitas unggulan.

“Kulitnya sudah disamak dan saya ambil dari rekanan yang memang saya sudah tahu kualitasnya,” kata Vanny saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (9/12/2016).

Lembaran kulit tersebut kemudian dipola, dipotong, dan dijahit sesuai model yang diinginkan. Kualitas material serta kualitas jahitan memang membuat harga yang ditawarkan terbilang tinggi dibandingkan kompetitor.

Produk tas ia jual mulai Rp900.000 dan dompet mulai Rp500.000. Vanny mengklaim, harga yang ditawarkan itu merupakan harga realistis yang telah memperhitungkan kualitas material dan gaji karyawan.

Membuat kerajinan dari kulit memang membutuhkan tenaga dan waktu yang ekstra, terlebih sebagian kecil prosesnya ada yang dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Namun usaha tersebut sepertinya tidak dapat dipahami oleh semua orang.

Vanny bahkan kerap menemui konsumen yang menyamakan produknya dengan tas sintetis yang dijual di pasar tradisional. “Saya tidak hanya menjual tapi juga sekaligus mengedukasi bahwa membuat tas kulit itu tidak mudah,” katanya.

Bagi sebagian orang yang memahami proses pembuatan tas kulit, mereka menaruh penghargaan pada perajin. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal kulit dan hanya membandingkan tas kulit dengan bahan sintetis atau semikulit,  mereka hanya akan meremehkan.

Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 50 tas dan mampu meraup omzet Rp35 juta. Pemasaran dilakukan secara online dan offline. Untuk pemasaran online, ia memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instagram, sementara untuk pemasaran offline, ia menjual di gerainya di Lippo Plaza lantai 1.

Produk tas Vanilla Leather banyak terjual di luar Jogja, seperti Jakarta, Balikpapan, Papua, dan Semarang. “Kalau ekspor belum [dilakukan] tetapi ada satu orang yang berencana ngebranding dan dijual di luar negeri. Sekarang lagi tahap perbincangan, dia juga sudah sempat ke sini,” katanya.

Ia juga menerapkan sistem diskon 15% untuk member dengan tujuan meningkatkan loyalitas konsumen pada produk-produk Vanilla Leather. Ia juga terus memperbarui model tas dengan meluncurkan model baru setiap dua bulan sekali.

Atas ketekunannya menjalani bisnisnya itu, ia berhasil masuk nominasi dalam Dekranasda Kota Yogyakarta (Dekoya) Award. Belum lama ini ia juga meraih penghargaan dalam ajang UKM WOW Kementerian Koperasi dan UMKM atas prestasinya membangun kewirausahaan lokal.