KEKERASAN BANTUL : Si Kiper Periang Pergi Sebelum Dioperasi

Kawan korban saat menunjukkan foto mendiang Adnan Wirawan Arsiyanta, Rabu (14/12/2016). (Yudho Priambodo/JIBI - Harian Jogja)
15 Desember 2016 00:55 WIB Sleman Share :

Kekerasan Bantul dengan satu korban tewas menjadi duka bersama.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Adnan Wirawan Arsiyanta, 16, pelajar SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta korban penusukan oleh geng pelajar, dimakamkan di Pemakaman Bayen, Purwomartani, Kalasan, Rabu (14/12/2016) siang. Ratusan pelayat sebagian besar sahabat korban, turut serta mengantarkan jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/14/pelayat-berdatangan-di-rumah-adnan-pelajar-sma-1-muhi-jogja-yang-jadi-korban-klithih-776359">Pelayat Berdatangan di Rumah Adnan, Pelajar SMA 1 Muhi Jogja Korban Klithih)

Belasan karangan bunga bertengger di sebuah rumah berwarna abu-abu tepat dipinggir jalan Raya Cangkringan, Kalasan, Sleman. Ucapan duka yang mendalam mengalir dari kawan, kerabat keluarga, hingga dari para alumni sekolah di mana Adnan menuntut ilmu SMA Muhi.

Raut muka kecewa dan sedih atas kepergian seorang sahabat tersirat jelas dalam ekspresi ratusan pelajar berseragam putih abu-abu yang datang bersamaan para guru mereka. Saat Harian Jogja coba mendekati salah satu pelajar, dengan maksud ingin mengulik mengenai keseharian Adnan di sekolah, Salza Safira, 15 siswi kelas X IPS 2 dengan mata sedikit lebam dan tissue di tangan dia menjawab sapaan wartawan dengan sedikit gugup.

Salza mengungkapkan betapa dirinya dan seluruh kawan-kawannya merasakan kehilangan yang mendalam.

"Anak pendiam yang ketawanya paling keras di kelas itu sekarang sudah pergi. Masih inget setiap pelajaran olahraga pas anak-anak main bola dia pasti jadi kiper," ujarnya saat disela-sela melaksanakan takziah di rumah duka, Rabu (14/12/2016) siang.

Perasaan dendam, emosi, kalut, dan tidak terima atas kejadian yang menimpa sahabatnya tampak dalam kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Namun apalah daya, Adnan sudah menutup mata selama-lamanya. Tubuhnya tidak mampu menopang luka akibat tusukan pisau yang tembus mengenai organ ginjalnya, ia dinyatakan meninggal bahkan sebelum menjalani pertolongan operasi dari tim dokter.

"Dimana rasa kemanusiaan si pelaku, apa dia tidak berpikir jauh bahwa perbuatannya itu sangat kejam dan merugikan orang lain. Pertama dengar kabar yang jelas langsung tidak terima tapi dalam hati kecil kami, kami tidak ingin ada korban lagi seperti Adnan," ujar seorang sahabat lain Cita Antariskiya, 15.

Wali kelas dan guru lain sudah berpesan kepada kami, dendam bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Meski kami sangat kehilangan sahabat apapun yang sudah terjadi kini agar petugas kepolisian yang mengambil sikap.

Cita juga menyampaikan adanya aksi kekerasan dijalan sudah membuat dirinya tidak nyaman dan takut saat di jalan ketika berangkat dan pulang sekolah. "Ngga tenang, tiap hari jumat, harus bawa ganti baju bukan seragam supaya tidak keliatan identitas SMA kami ubtuk menghindari pelajar yang suka klithih itu," kata dia.