Advertisement
Menjaga Manis Tradisi: Kue Keranjang Imlek dari Tukangan Jogja
Karyawan Sianywati tengah membuat kue keranjang, beberapa waktu lalu. - ist Humas Pemkot
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, aroma manis kue keranjang kembali menguar dari sebuah rumah sederhana di kawasan Tukangan, Danurejan. Di sudut barat Stasiun Lempuyangan, sebuah keluarga perajin kue keranjang kembali disibukkan dengan rutinitas tahunan yang telah dijalani lintas generasi untuk memenuhi kebutuhan perayaan Imlek.
Produksi kue keranjang di rumah tersebut bukan sekadar aktivitas musiman, melainkan tradisi turun-temurun yang terus dijaga. Kue khas Tionghoa ini menjadi sajian wajib saat Imlek, baik untuk dinikmati bersama keluarga maupun sebagai bagian penting dari ritual penghormatan kepada leluhur. Teksturnya yang lengket dan cita rasanya yang manis menyimpan filosofi mendalam tentang harapan hidup yang harmonis.
Advertisement
Sianywati, generasi kedua pembuat kue keranjang di Tukangan, menuturkan bahwa kue keranjang memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Bahan dasarnya berupa beras ketan melambangkan kelengketan, yang dimaknai sebagai perekat hubungan antarmanusia, khususnya dalam lingkup keluarga.
“Ketan itu kan lengket, jadi maknanya supaya keluarga tetap lengket, rukun, saling merekat satu sama lain. Terus rasanya manis, harapannya hidup orang-orang yang makan kue ini juga manis. Kariernya manis, rezekinya manis, hubungannya juga manis,” ujarnya beberapa waktu lalu.
BACA JUGA
Ia mengungkapkan, pada masa lalu kue ini benar-benar dicetak menggunakan keranjang yang dialasi daun pisang. Dari situlah nama kue keranjang berasal dan menjadi identitas utamanya. Seiring perubahan zaman dan keterbatasan bahan, proses pencetakan kini banyak menggunakan kertas kaca sebagai pengganti daun pisang.
“Dulu itu dicetaknya di keranjang yang dialasi daun pisang. Makanya disebut kue keranjang. Tapi sekarang susah cari daun pisang, jadi banyak yang pakai kertas kaca sebagai pengganti,” katanya.
Meski bahan pendukung mengalami penyesuaian, proses pembuatan kue keranjang di rumah Sianywati nyaris tidak tersentuh modernisasi. Seluruh tahapan masih dilakukan secara tradisional, dimulai dari mencuci beras ketan hingga bersih, kemudian menggilingnya sampai menjadi tepung.
Tepung ketan tersebut kemudian diayak untuk menghilangkan gumpalan agar teksturnya benar-benar halus. Di sisi lain, gula pasir direbus bersama air hingga mendidih dan membentuk larutan manis yang selanjutnya dicampurkan ke dalam tepung ketan.
Adonan yang telah tercampur rata tidak langsung dimasak, melainkan didiamkan terlebih dahulu selama kurang lebih satu hari. Setelah itu, adonan dicetak ke dalam wadah dan dikukus selama sembilan jam penuh menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah, yang hingga kini masih dipertahankan.
“Kalau pakai kompor minyak tanah, panasnya lebih merata. Selain itu, ini juga cara kami melestarikan cara lama dari nenek. Rasanya beda, lebih legit,” ungkapnya.
Usai melalui proses pengukusan selama sembilan jam, kue keranjang diangkat dan didinginkan sebelum akhirnya dikemas. Menariknya, meski tidak menggunakan bahan pengawet, kue keranjang buatan Sianywati dapat bertahan hingga satu tahun apabila disimpan di dalam lemari pendingin.
Menjelang Imlek, kapasitas produksi kue keranjang di rumah tersebut bisa mencapai sekitar 200 kilogram per hari. Sianywati memproduksi kue dalam lima variasi ukuran, dengan ukuran utama berbobot 1 kilogram dan 0,5 kilogram. Sebagian besar hasil produksi bahkan telah dipesan jauh hari oleh pelanggan setia. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, yakni Rp55.000 per buah.
Walaupun permintaan kue keranjang terus meningkat setiap tahun, Sianywati memilih untuk tidak mengubah sedikit pun proses pembuatan warisan keluarganya. Baginya, keistimewaan kue keranjang justru terletak pada konsistensi cara tradisional yang tetap dijaga.
“Prosesnya dari dulu sama, tidak ada yang berubah. Inilah kekhasan kue keranjang saya. Kalau diubah, rasanya bukan lagi warisan nenek,” tuturnya.
Di luar momentum Imlek, Sianywati tetap berkutat di dapur dengan memproduksi bakcang, makanan khas Tionghoa berbahan beras yang dibungkus daun bambu dan berisi daging serta kacang. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari kesehariannya untuk terus menjaga usaha keluarga.
“Kalau bukan Imlek, saya bikin bakcang. Itu juga sudah lama saya kerjakan. Jadi tetap masak tiap hari, tetap di dapur,” katanya.
Menjelang perayaan Imlek 2026, Sianywati menyimpan harapan sederhana agar dirinya dan keluarga senantiasa diberi kesehatan dan kelancaran dalam menjalani usaha. Dengan kondisi tubuh yang sehat, ia berharap dapat terus melestarikan tradisi pembuatan kue keranjang khas Imlek di Tukangan sebagai warisan keluarga yang tak lekang oleh waktu.
“Harapan saya cuma sehat. Kalau sehat, bisa terus bikin kue. Bisa nerusin usaha ini sampai kapan pun,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Prabowo Hadiri Pengukuhan MUI 2025-2030 di Masjid Istiqlal
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Bantul dan Jogja Terdampak Gempa, 40 Orang Dilarikan Ke Rumah Sakit
- BNNK Sleman Edukasi Narkoba lewat Upacara Bendera, Sasar 4.142 Siswa
- Pakar UGM: Program Gentingisasi Dinilai Perlu Kajian Menyeluruh
- Polres Gunungkidul Hadang Suporter Persis Solo ke Bantul
- Dampak Gempa Pacitan, 20 Titik Bangunan di Bantul Rusak
Advertisement
Advertisement



