BANK DI JOGJA : Gugah Masyarakat Menabung Lewat Arisan

Suasana penarikan undian Simpanan Arisan Ekonomi (SAE) Daya di kantor pusat BPR Bhakti Daya EKonomi (BDE) Pakem, Sleman, Kamis (15/12/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
19 Desember 2016 22:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Bank di Jogja BPR BDE memiliki sistem simpanan arisan.

Harianjogja.com, SLEMAN -- Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bhakti Daya Ekonomi (BDE) baru saja mengundi hadiah untuk Simpanan Arisan Ekonomi (SAE) Daya. Tabungan dengan sistem simpanan arisan ini memperebutkan total hadiah Rp125 juta.

Penanggung Jawab SAE BPR BDE Sri Harsono mengatakan, hadiah utama tersebut dibagi untuk lima pemenang, masing-masing mendapatkan Rp35 juta, Rp30 juta, Rp25 juta, Rp20 juta, dan Rp15 juta. SAE Daya tersebut ditempuh dalam waktu 36 bulan, di mana setiap tahunnya nasabah yang beruntung masih bisa mendapatkan hadiah berupa sepeda motor.

Harsono mengatakan, awalnya BDE mengajak masyarakat untuk menabung. Agar tidak mengalami kemacetan, maka dipilih sistem arisan dengan asumsi bahwa nasabah pasti membayar sesuai jatuh tempo.
“Arisan juga tidak melanggar aturan maka dibentuk simpanan arisan,” katanya pada Harianjogja.com, Kamis (15/12/2016).

SAE yang dimiliki BPR BDE sudah hadir sejak 1992. Awalnya, nilai arisan hanya Rp10.000 per bulan, kemudian semakin naik menjadi Rp25.000, Rp50.000, dan terakhir adalah Rp100.000 untuk SAE Daya. Arisan ini terbagi dalam grub yang anggotanya berjumlah 200 orang. Pengundian dilakukan setiap tanggal 15.

SAE Daya memiliki anggota 22 grub. Selain SAE Daya ada pula SAE Premium yang beranggotakan 28 grub dan SAE Idaman beranggotakan 29 grub. Setelah SAE Daya berakhir, BDE langsung melaunching SAE Bhakti Utama dengan nilai arisannya Rp200.000 per bulan. Nantinya nasabah yang mendapatkan undian setiap bulan mendapat bonus Rp1,5 juta.

“Tanggapannya masyarakat tinggi. Buktinya berbagai kalangan ikut, seperti pegawai negeri, pedagang, dan tidak hanya menengah ke bawah tapi ada menengah atas. Ada pengusaha besar ikut satu grub,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama BPR BDE Tribowo mengakui bahwa komposisi tabungan memang lebih kecil dibandingkan jumlah depositonya. Kalangan bank merasa sulit meningkatkan tabungan karena sejak awal masyarakat menginginkan bunga yang tinggi, sementara bunga yang tinggi bisa diperoleh dari deposito.

“Saat ini tabungan kami Rp100-an miliar dan depositonya Rp365 miliar,” katanya.

Berbicara bisnis BPR saat ini, pihaknya mengakui persaingan semakin ketat. Terlebih saat ini persaingan tidak lagi dengan sesama BPR tetapi kepada bank umum. Kalangan mikro kecil yang dulu menjadi target pasar BPR kini sudah dimainkan oleh bank umum melalui kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga 9%. Tahun depan jika suku bunga KUR turun lagi menjadi 7%, BPR harus dituntut untuk bisa berinovasi memainkan pasar bisnisnya.

“Kita ingin naik kelas. Tidak hanya main [memberi kredit] di mikro tapi kalau bisa ditingkatkan antara Rp250 juta sampai Rp5 miliar,” tutur Tribowo.