PERBANKAN DIY : BPR Jadi Lembaga Keuangan Paling Dekat dengan Masyarakat

26 Desember 2016 16:20 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Perbankan DIY untuk jenis BPR berpeluang besar untuk tumbuh

Harianjogja.com, JOGJA--Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dinilai sebagai lembaga keuangan yang paling dekat dengan masyarakat. Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY melihat peluang pertumbuhan BPR di DIY masih sangat besar.

Deputi Kepala KPw BI DIY Hilman Tisnawan mengatakan, BPR memiliki ruang yang lebih lebar untuk berkembang. Hal itu terlihat dari pertumbuhan aset BPR pada semester satu yang lebih besar dari bak umum.

"Aset BPR tumbuh 4,89 persen, sedangkan bank umum 3,04 persen. Artinya, BPR ada room untuk lebih lebar untuk berkembang," ujar dia, Minggu (25/12/2016).

Ia mengatakan, jumlah BPR di DIY juga belum banyak dan masih memungkinkan untuk dibuka lagi. Segmen mikro merupakan segmen yang sangat potensial untuk digarap BPR misalnya kredit di bawah Rp5 juta. BPR memiliki cara pendekatan dan alat sendiri untuk menilai kemampuan kreditur. Pendekatan kekeluargaan menjadi modal utama.

"Saya kira BPR tidak perlu head to head dengan bank umum. Bank umum memang punya produk mikro tapi untuk yang bankable saja. Kalau BPR kan lebih punya alat lain untuk ukur kemampuan kreditur," tutur dia.

Optimisme itu didukung capaian BPR yang ada di DIY selama semester peratama 2016. Ia mengungkapkan, pada semester pertama 2016, BPR di DIY mengalami pertumbuhan aset sebesar 4,89% atau Rp280,123 miliar.

Posisi aset BPR di DIY sampai Juni 2016 tercatat sebesar Rp6,007 triliun, sedangkan pada posisi Desember 2015 total aset sebesar Rp5,727 triliun.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR di DIY sampai Juni 2016 mengalami pertumbuhan 4,20% atau Rp161,605 miliar. Adapun total DPK BPR di DIY pada semester satu 2016 sebesar Rp4,013 triliun, sedangkan pada Desember 2015 tercatat Rp3,851 triliun. Jumlah rekening juga mengalami pertumbuhan sebesar 5,43% dari 550.841 pada Desember 2015 menjadi 580.771 pada Juni 2016.

Total tabungan tercatat meningkat 0,87% dari Rp1,25 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp1,26 triliun pada Juni 2016. Sementara, total deposito meningkat 5,80% dari Rp2,6 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp2,75 triliun pada Juni 2016.

Sisi kredit juga menunjukkan peningkatan. Kredit yang disalurkan BPR tercatat meningkat 7,04%. Pada Desember 2015, total kredit yang disalurkan BPR di DIY sebesar Rp3,987 triliun. Sementara, pada Juni 2016 total kredit yang disalurkan sebesar Rp4,267 triliun. Sementara, rasio non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah di BPR sampai April 2016 tercatat 6,07%.

"NPL tinggi, tapi memang BPR bersaing dengan BPR sendiri, tapi juga dengan kredit mikro dari bank umum. Agar NPL enggak tinggi ya jangan head to head dengan bank umum," kata dia.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Perkumpulan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY Ascar Setiyono mengatakan, tahun 2016 dan 2017 dinilai belum terlalu berpihak pada BPR. Perlambatan ekonomi secara global berpengaruh hingga daerah sehingga menciptakan pasar yang lesu.

Penyaluran pendanaan pada tahun 2016 ini melambat sehingga perlu ada evaluasi. "Pertumbuhan bisnis BPR di DIY tahun ini rata-rata tidak lebih dari 10%. Kondisi tahun depan pun diprediksi tidak jauh berbeda," ungkap dia.