Laboartorium Obah #3 dan Cara Menjadi Manusia di Tengah Riuhnya Dunia
Alih-alih mandek sepeninggal Sang Maestro Jemek Supardi empat tahun silam, pantomim di Jogja terus dipertunjukkan, dengan segala kreativitas dan inovasinya.
Suasana di Pondok Pesantren Umul Mutta’alimin (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)
Penelantaran anak kali ini ditemukan di sebuah Ponpes.
Harianjogja.com, BANTUL -- Berdalih jumlah tenaga pengasuh yang minim, Pondok Pesantren Umul Mutta’alimin yang berada di wilayah Dusun Jambon, Desa Argosari, Sedayu diduga menelantarkan santrinya. Akibatnya, aktivitas pendidikan santri yang kebanyakan anak-anak siswa SD dan SMP itu pun terganggu.
Hal itu diakui sendiri oleh Aji Widayani, salah satu guru SD 1 Dingkikan. Kepada Harianjogja.com, ia membenarkan kegiatan belajar mengajar dari semua santri Ponpes Umul Mutta’alimin yang menjadi siswanya terganggu. Bahkan satu di antaranya terancam tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) lantaran hingga kini belum memiliki Nomor Induk Siswa (NIS).
Nyaris setiap hari, ia mendapati para santri ponpes yang hingga kini masih berupaya alih status dari panti asuhan menjadi ponpes itu mengantuk di kelas. Saat ditanya, mereka mengaku kelelahan setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di ponpes.
“Apalagi kalau malam harinya ada kegiatan di ponpes. Keesokan paginya, anak-anak pasti lemas. Bahkan ada yang tidak masuk dengan alasan sakit dan kelelahan,” katanya.
Tak hanya itu, ia pun mengaku, seragam yang dipakai para santri yang menjadi anak didiknya itu juga kerap terkesan tak terurus. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang nekat mengenakan sandal ke sekolah lantaran beralasan sepatunya hilang.
“Seringnya, seragam mereka rusak. Beberapa dari mereka bahkan selalu mengaku tidak mandi saat pergi ke sekolah,” aku Aji lagi.
Sementara terkait siswa yang terancam tak bisa mengikuti UN, Aji menjelaskan, hal itu disebabkan siswa yang bersangkutan belum terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Tidak adanya akta kelahiran mengakibatkan pihaknya kesulitan untuk mengurus NIS siswa yang bersangkutan.
“Kalau memang orang tuanya tidak ada, seharusnya bisa diwakili pemilik Ponpes selaku walinya,” tegasnya.
Selama ini, komunikasi antara pihak sekolah dan Ponpes memang tersendat. Pasalnya, di semua acara sekolah yang melibatkan orang tua atau wali murid, pihak pengelola Ponpes tak pernah hadir.
Mereka hanya menginstruksikan santri yang usianya lebih tua sebagai wakil dari pihak pengelola Ponpes. Padahal, santri yang mendapatkan mandat itu sebenarnya juga masih duduk di bangku SMP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Alih-alih mandek sepeninggal Sang Maestro Jemek Supardi empat tahun silam, pantomim di Jogja terus dipertunjukkan, dengan segala kreativitas dan inovasinya.
BRIN kembangkan pelat karet RCP untuk perlintasan KA, inovasi baru tingkatkan keselamatan dan kurangi risiko kecelakaan.
Prediksi Malut United vs Persita di Super League 2026, tuan rumah diunggulkan menang berkat lini depan tajam.
Budi Waljiman menyerahkan bantuan gamelan Suara Madhura untuk SMA Bosa Jogja guna memperkuat pelestarian budaya Jawa di sekolah.
Prabowo tegas minta BPKP tetap periksa pejabat yang diduga menyimpang tanpa melihat kedekatan dengan dirinya.
Polisi selidiki keributan di Tegalrejo Jogja yang viral di media sosial. Diduga terjadi penganiayaan usai cekcok di jalan.