PENELANTARAN ANAK : Kurang Personel, Ponpes Diduga Telantarkan Santrinya

Suasana di Pondok Pesantren Umul Muttaalimin (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
02 April 2017 20:19 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Penelantaran anak kali ini ditemukan di sebuah Ponpes.

Harianjogja.com, BANTUL -- Berdalih jumlah tenaga pengasuh yang minim, Pondok Pesantren Umul Mutta’alimin yang berada di wilayah Dusun Jambon, Desa Argosari, Sedayu diduga menelantarkan santrinya. Akibatnya, aktivitas pendidikan santri yang kebanyakan anak-anak siswa SD dan SMP itu pun terganggu.

Hal itu diakui sendiri oleh Aji Widayani, salah satu guru SD 1 Dingkikan. Kepada Harianjogja.com, ia membenarkan kegiatan belajar mengajar dari semua santri Ponpes Umul Mutta’alimin yang menjadi siswanya terganggu. Bahkan satu di antaranya terancam tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) lantaran hingga kini belum memiliki Nomor Induk Siswa (NIS).

Nyaris setiap hari, ia mendapati para santri ponpes yang hingga kini masih berupaya alih status dari panti asuhan menjadi ponpes itu mengantuk di kelas. Saat ditanya, mereka mengaku kelelahan setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di ponpes.

“Apalagi kalau malam harinya ada kegiatan di ponpes. Keesokan paginya, anak-anak pasti lemas. Bahkan ada yang tidak masuk dengan alasan sakit dan kelelahan,” katanya.

Tak hanya itu, ia pun mengaku, seragam yang dipakai para santri yang menjadi anak didiknya itu juga kerap terkesan tak terurus. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang nekat mengenakan sandal ke sekolah lantaran beralasan sepatunya hilang.

“Seringnya, seragam mereka rusak. Beberapa dari mereka bahkan selalu mengaku tidak mandi saat pergi ke sekolah,” aku Aji lagi.

Sementara terkait siswa yang terancam tak bisa mengikuti UN, Aji menjelaskan, hal itu disebabkan siswa yang bersangkutan belum terdaftar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Tidak adanya akta kelahiran mengakibatkan pihaknya kesulitan untuk mengurus NIS siswa yang bersangkutan.

“Kalau memang orang tuanya tidak ada, seharusnya bisa diwakili pemilik Ponpes selaku walinya,” tegasnya.

Selama ini, komunikasi antara pihak sekolah dan Ponpes memang tersendat. Pasalnya, di semua acara sekolah yang melibatkan orang tua atau wali murid, pihak pengelola Ponpes tak pernah hadir.

Mereka hanya menginstruksikan santri yang usianya lebih tua sebagai wakil dari pihak pengelola Ponpes. Padahal, santri yang mendapatkan mandat itu sebenarnya juga masih duduk di bangku SMP.