PENATAAN GUNUNGKIDUL : Habitat Monyet Terancam Masifnya Pembangunan

Ngatijo salah satu warga Padukuha Namberan Desa Karangasem Kecamatan Paliyan menunjukkan sarang kera ekor pannjang di Lemah Jemblong sayangnya kera/kera sedang tak ada di sarang.
12 April 2017 22:22 WIB Irwan A Syambudi Gunungkidul Share :

Penataan Gunungkidul perlu memperhitungkan kawasan khusus untuk pelestarian

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Masifnya pembangunan setelah berkembang pesatnya pariwisata di Kabupaten Gunungkidul membuat habitat monyet terancam. Akibatnya satwa yang dilindungi itu berkeliaran hingga permukiman warga hanya untuk mencari makan.

Kepala Resort Suaka Marga Satwa Paliyan, Widodo mengatakan, masifnya pembangunan di kawasan yang merupakan habitat monyet membuat hewan tersebut semakin terdesak. Sehingga tak jarang ditemui segerombolan monyet masuk hingga permukiman warga.

“Di sepanjang wilayah Pantai Gunungkidul itu untuk habitat monyet. Tapi karena perkembangan pariwisata yang sudah masif membuat hewan itu tergeser, semakin lari ke arah utara,” kata dia kepada wartawan, Rabu (12/4/2017).

Menurut Widodo alih fungsi lahan yang masif, seperti untuk pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JJLS) adalah salah satu penyebab terancamnya habitat monyet. Ditambah lagi puluhan bahkan ratusan hektar lahan di sekitar habitat monyet juga telah dialih fungsikan untuk pengembangan pariwisata, seperti untuk membangun hotel atau resort.

Selain itu, pembukaan lahan untuk pertanian juga menjadi salah satu faktor terancamnya habitat monyet. “Habitatnya semakin terdesak karena kepentingan pertanian atau pembangunan lainnya,” jelasnya.