"Ngapem" Mengawali Prosesi Tingalan Dalem Jumenengan Sultan HB X

25 April 2017 19:04 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Serangkaian prosesi adat digelar untuk memperingati Tingalan Dalam Jumenengan atau peringatan naik tahta Sultan HB X

Harianjogja.com, JOGJA -Rabu (26/4/2017) tepat 28 tahun http://m.harianjogja.com/?p=717349">Sri Sultan Hamengku Buwono X bertahta. Serangkaian prosesi adat digelar untuk memperingati Tingalan Dalam Jumenengan atau peringatan naik tahta Sultan HB X di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.?

Sultan HB X http://m.harianjogja.com/?p=413682">naik tahta pada 29 Rejeb 1921 bertepatan dengan 7 Maret 1989. Tahun ini bertepatan dengan 26 April 2017. Prosesi Tingalan Dalam Jumenengan ini diawali dengan membuat apem pada Selasa (25/4/2017).

Pembuatan apem digelar di Bangsa Sekar Kedaton, Komplek Keputren, Kraton yang dipimpin langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.http://m.harianjogja.com/?p=716554"> Empat putri Sultan dan Hemas tampak hadir mengikuti prosesi tersebut. Mereka adalah GKR Mangkubumi (Pembayun) dan GKR Maduretno tepat berada disamping kanan kiri GKR Hemas.

Kemudian GKR Maduretno dan GKR Bendoro paling kanan yang masih satu deretan dengan ibunya. Hanya GKR Hayu yang tidak tampak. Sementara yang lainnya adalah para isteri pangeran dan abdi dalem. Prosesi tersebut tampak hening dari obrolan, hanya suara adukan adonan dan gorengan apem di wajan.

Sejumlah awak media hanya diijinkan untuk mengambil gambar. Sementara di Bangsal Sewokencono juga sudah disiapkan sejumlah ubo rampe. "Apem yang dibuat putri-putri Kraton ini menjadi pelengkap ubo rampe," kata Penghageng Tepas Tanda Yekti, Kanjeng Pangeran Hario (KPH) Yudhahadiningrat saat ditemui di ruang kerjanya di Komplek Kraton, kemarin.

Total adonan apem sebanyak 250 kilogram. Prosesi pembuatan apem dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Apem-apem yang dibuat beserta ubo rampe itu rencanakan akan dilabuh di tiga tempat, yakni di Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu pada Kamis (27/4/2017) besok.

Namun sebelumnya akan didoakan terlebih dahulu oleh ulama di Bangsal Srimanganti semalaman. "Secara simbolis yang menyerahkan ubo rampe nanti adalah GKR Mangkubumi." kata Yudhahadiningrat.

Yudhahadingrat mengatakan dalam Tingalan Dalem Jumenengan kali ini tidak ada upacara khusus atau penyampaian amanat Sultan seperti tahun sebelumnya. Hanya labuhan yang sudah menjadi tradisi tahunan. Prosesi pemberangkatan labuhan dari Kraton juga bisa disaksikan oleh Masyarakat umum di Komplek Keben.

Penghageng Tepas Dwarapura Kraton, Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat mengatakan tradisi "Ngapem" di Kraton sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Dalam tradisi upacara di jawa termasuk upacara peringatan Tingalan Dalem Jumenengan, kue apem selalu ada sebagai simbol.

Apem dimaknai sebagai pengharapan dan ampunan kepada yang maha kuasa. Apem berasal dari kata bahasa Arab "Afwun" kemudian diucapkan menjadi Apem yang berarti maaf. "Kita berharap kepada Tuhan agar selalu diberi keselamatan," ujar Jatiningrat yang biasa disapa Romo Tirun.

Romo Tirun menganggap labuhan bukan berarti memberikan sesajen, melainkan dimaknai sebagai menjaga hubungan manusia dengan makhluk lainnya. Makhluk lain yang dimaksud seperti laut, gunung, dan sebagainya. Menurutnya, manusia harus menjaga hubungan dengan alam dan bumi supaya tetap seimbang.

"Upacara ini kaitannya dengan hamemayu, melindungi dunia agar tidak rusak." kata Romo Tirun.