Advertisement

Ada "Gempa", Anak-anak PAUD di Bantul Paham Apa yang Harus Dilakukan

Rheisnayu Cyntara
Kamis, 27 April 2017 - 15:20 WIB
Nina Atmasari
Ada

Advertisement

Anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Bantul mengikuti simulasi bencana gempa bumi

Harianjogja.com, BANTUL--Tepat pada pukul 10.00 WIB, sirine tanda bahaya berdenging nyaring. Kentongan ditabuh bertalu-talu. Teriakan "Gempa.. Gempaa.." terdengar di mana-mana.

Advertisement

Ratusan anak berumur 3-5 tahun berhamburan dari dalam gedung bersama orang tuanya masing-masing dengan tas di atas kepalanya. Banyak dari mereka yang berlari dengan digandeng, namun tak sedikit pula yang dibopong oleh ibunya. Beberapa anak segera berlindung di bawah meja yang berada di sudut-sudut gedung.

Serentak para relawan berkoordinasi untuk mengevakuasi warga. Raung sirine terdengar bersamaan dengan datangnya belasan mobil ambulan yang membawa bantuan. Anak-anak yang terluka dibawa dengan tandu, tenda darurat didirikan, dapur umum disiapkan. Jerit tangis ketakutan terdengar. Namun setelah beberapa saat, seruan "Siap Untuk Selamat" terlontar dari bibir mungil anak-anak tersebut.

Mereka adalah anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sedang mengikuti simulasi bencana gempa bumi dalam rangka peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2017 pada Rabu (25/4/2017). Ada 400 anak yang terlibat dalam simulasi kali ini. Semuanya merupakan warga Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul.

Bunda Paud Kecamatan Imogiri, Suarsih Kurnianingsih yang mendampingi simulasi tersebut mengatakan pendidikan kebencanaan sejak dini sangat penting dilakukan. Anak usia dini lebih peka dan mudah ingat hal-hal yang diajarkan kepada mereka, termasuk soal kesadaran untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana alam.

Ia mencontohkan, kini anak-anak sudah mengerti jika bencana gempa terjadi mereka tidak boleh berada di bawah pohon ataupun bangunan. Mereka mulai terlatih untuk berlari ke lapangan luas ataupun berlindung di bawah meja.

Pemahaman tersebut sudah mulai ditanamkan dalam pelajaran sehari-hari. Menurut Suarsih, setiap pelajaran olahraga di hari Jumat, anak-anak dibekali materi kemandirian termasuk juga kesiapan menghadapi bencana alam. Meskipun belum ada kurikulum khusus tentang pendidikan kebencanaan.

"Jika kiriman 2006 [gempa] itu datang lagi, kami sudah siap menghadapinya," ujar dia.

Lurah Wukirsari, Bayu Bintoro menjelaskan pemilihan anak-anak usia PAUD untuk melakukan simulasi bertujuan untuk mengenalkan pengetahuan tentang bencana alam sejak dini sehingga nantinya ketika dewasa mereka siap menghadapi bencana.

Menurut Bayu, selain mengadakan simulasi, sebagai Desa Tangguh Bencana, Desa Wukirsari juga telah memiliki beberapa kelompok relawan kebencanaan. Yaitu Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB), Garda, dan Linmas. Setiap tahunnya, Pemdes menganggarkan minimal Rp20 juta untuk operasional kebencanaan. "Kami punya 120 relawan aktif dan sudah memiliki SOP untuk penanganan bencana," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi di Tuapejat Mentawai, Picu Kepanikan

Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi di Tuapejat Mentawai, Picu Kepanikan

News
| Sabtu, 04 April 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement