Konvoi Kelulusan Mestinya Dicegah Sejak Sebelum UNBK

Sejumlah siswa berseragam putih abu-abu yang melakukan konvoi kelulusan digiring ke Mapolsek Ngaglik Sleman, Selasa (2/5/2017). (Abdul Hamied Razak/JIBI - Harian Jogja)
03 Mei 2017 00:19 WIB Holy Kartika Nurwigati Sleman Share :

Kelulusan pelajar sekolah menengah atas selalu diwarnai dengan tradisi corat-coret dan konvoi kendaraan

Harianjogja.com, JOGJA-Kelulusan pelajar sekolah menengah atas selalu diwarnai dengan tradisi corat-coret danhttp://cms.solopos.com/?p=801528"> konvoi kendaraan. Rektor Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Profesor Buchory menilai tindakan tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

"Sekolah mestinya dapat memberikan pengertian kepada siswanya sebelum UNBK dilaksanakan. Bahwa ujian nasional tersebut bukanlah satu-satunya penentu kelulusan, sehingga tidak perlu dirayakan secara berlebihan," ujar Buchory saat dihubungi Harianjogja.com, Selasa (2/5/2017).

Buchory mengakui jika konvoi dan aksi corat-coret seragam paska pengumumam kelulusan merupakan cara untuk merayakan hasil perjuangan siswa dalam menempuh ujian. Kendati demikian, aksi tersebut sebenarnya tidak memberikan manfaat apapun, baik setelah lulus maupun saat memasuki jenjang perguruan tinggi.

"Jika sejak awal sekolah dapat memberikan pengertian, misal baju seragam masih dapat disumbangkan, karena itu jauh lebih bermanfaat. Bisa untuk disalurkan ke adik kelas, maupun lintas sekolah yang memang membutuhkan," jelas Buchory.

Terkait konvoi, Buchory juga menegaskan perlunya kerjasama dengan pihak terkait dalam hal ini kepolisian. Konvoi dengan menggunakan kendaraan bermotor di jalan raya akan memberikan efek tidak baik di masyarakat. Buchory menegaskan konvoi dapat mengganggu ketertiban umum dan mengganggu pengguna jalan, bahkan dapat berdampak pada kecelakaan lalu lintas.

"Maka perlu adanya tindakan tegas dari aparat kepolisian. Polisi harus tegas dengan tidak memberikan keleluasaan pada pelajar yang melakukan konvoi tersebut," imbuh Buchory.