Tambah Jalur Trans Jogja, Pemda DIY Disarankan Beli Bus dan Trayek Perkotaan

Bus baru Trans Jogja berwarna biru siap mengaspal, Rabu (25/5/2016). (Gilang Jiwana/JIBI - Harian Jogja)
08 Mei 2017 14:19 WIB Sunartono Jogja Share :

Paguyuban Kru Bus Perkotaan Kota Jogja menyarankan kepada Pemda DIY untuk membeli armada sekaligus trayek perkotaan

 

Harianjogja.com, JOGJA - Paguyuban Kru Bus Perkotaan Kota Jogja menyarankan kepada Pemda DIY untuk membeli armada sekaligus trayek perkotaan jika ingin mengoperasikan jalur baru Trans Jogja. Meski demikian, Dishub DIY menyatakan tidak memungkinkan menjalankan saran tersebut.

Koordinator Paguyuban Kru Bus Perkotaan Kota Jogja Benny Wijaya menjelaskan, pihaknya hanya meminta kepada pemerintah untuk mendukung bus perkotaan dalam mempertahankan lima jalur.

Kelimanya adalah jalur 2, 4, 7, 12 dan 15, namun dari kelima jalur itu hingga 2017, untuk jalur 7 dan jalur 12 perlahan mati akibat pengembangan Trans Jogja. Ia berusaha untuk mempertahankan tiga jalur lainnya agar kru tetap dapat beroperasi.

Menurutnya, ada beberapa solusi yang mungkin bisa menjadi pertimbangan Dinas Perhubungan DIY, agar kru perkotaan tetap bisa menjalankan pekerjaannya. Jika Pemda DIY secara serius ingin menata transportasi Kota Jogja, ia menyarankan jika memungkinkan membeli armada sekaligus trayek perkotaan.

"Alangkah baiknya, armada itu dibeli sama trayeknya, jadi sekalian kalau emang diganti Kota Jogja mau ditata transportasinya pemerintah juga harus berani mengeluarkan uang," ungkapnya, Minggu (7/5/2017).

Selain itu, kata dia, pihak Trans Jogja sebaiknya menggandeng kru perkotaan untuk turut serta dalam mengoperasikan bus. Mengingat, selama ini belum pernah dilakukan, ketika jalur perkotaan mati secara otomatis kru akan kehilangan pekerjaan.

Namun terpenting, lanjut Benny, ia mendesak Dishub DIY untuk mengalihkan sejumlah jalur baru yang akan dioperasikan bulan Mei 2017, setelah sebelumnya membuka tiga jalur baru yaitu jalur 7, 9 dan 11. Benny akan mengedepankan negoisasi dengan Dishub DIY terkait kemelut itu.

"Kalau dipakai [Trans Jogja] semua, terus perkotaan jalan apa. Kalau terealisasi jalur baru, kami benar-benar mati. Maka saya sebagai orang arus bawah berusaha mempertahankan. Makanya kami minta diskusi untuk dialihkan, kita dalam negoisasi, dengan instansi terkait seperti operator juga," tegasnya.