Tak Bisa Sebutkan Omzet, Seniman Sulit Mengakses Pinjaman di Bank

13 Mei 2017 09:21 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Pekerja seni rupa kesulitan mendapat bantuan dan pinjaman dari Pemerintah maupun perbankan

 
Harianjogja.com, JOGJA-Pekerja seni rupa kesulitan mendapat bantuan dan pinjaman dari Pemerintah maupun perbankan. Hal tersebut dikarenakan para pekerja seni tidak memiliki omzet yang pasti.

Sesepuh komunitas perupa Jogja Kelompok Wedangan Slamet Riyanto mengatakan, ia merasa prihatin karena Pemerintah belum banyak memberikan perhatian kepada para pekerja seni rupa. Dikatakannya seniman kerap berjuang sendiri untuk bisa mempertahankan bisnisnya dalam menghasilkan lukisan.

“Maka tidak mustahil ada perupa yang hidupnya susah karena hidup dengan hasil karya yang kadang tidak menentu,” tuturnya pada Harianjogja.com saat mengikuti pameran seni rupa di Hotel Gallery Prawirotaman, Rabu (10/5/2017) lalu.

Ia mengakui lukisan adalah hasil karya yang tidak semua orang menyukainya. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati keindahan lukisan. Hal ini membuat lukisan tidak pasti bisa terjual dan membuat penghasilan perupa tidak menentu.

Omzet yang tidak pasti itu dari kacamata perbankan menjadi poin penting saat akan menyalurkan pinjaman pada pekerja seni rupa. “Kalau sudah ditanya omzet, kita sulit menjawab,” tutur pria bertopi ini.

Bahkan, katanya, Pemerintah masih sangat berpedoman pada persyaratan pengajuan kredit seperti wajib menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), menyampaikan modal, dan juga data omzet.

Bersambung halaman 2

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perlakukan khusus kepada para pekerja seni yang akan mengajukan kredit untuk pengembangan usahanya.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perlakukan khusus kepada para pekerja seni yang akan mengajukan kredit untuk pengembangan usahanya.

Misalnya dibebaskan dari persyaratan NPWP dan bukti pendukung lainnya. Selain akses terhadap modal, perupa di Jogja saat ini juga membutuhkan pasar seni sebagai wadah untuk memamerkan sekaligus menjual lukisannya.

Kepala Kantor OJK Regional 3 Muhammad Ishanuddin sebelumnya mengatakan, para kreator seni sudah bekerja sekuat tenaga menciptakan sebuah karya tetapi saat ingin mendanai kreasinya agar bisa bernilai jual, tidak ada bank yang mau mendanai hasil karya mereka.

"Kreator sudah berkreasi sekeras mngkin tapi ditampik padahal di negara lain sangat didukung," tuturnya.

Penghasilan yang tidak rutin disebut-sebut menjadi alasan perbankan enggan menyalurkan pinjaman pada pekerja seni. Bank takut menanggung risiko jika terjadi kredit macet meski sebenarnya saat ini sudah ada Jamkrindo dan Askrindo yang menjamin kredit pinjaman tetap lancar.

Ia mengatakan, pinjaman akan sulit cair saat pengajuan kredit hanya dilakukan personal. Pihaknya sempat mendorong agar seniman membentuk organisasi berbadan hukum seperti CV atau PT agar proses pengajuan pinjaman lebih mudah dan berpeluang untuk disetujui. Namun di balik itu, ia juga menyadari bahwa karakter pelaku UMKM antara satu subsektor dengan subsektor lainnya sangat berbeda.

"Seperti yang dikatakan Djaduk bahwa mereka antimainstream, tidak punya pembukuan dan perpajakan karena penghasilannya tidak rutin, kadang waktu ada job [penghasilan] tinggi, saat nggak ada ya nol," tuturnya.