Padat Karya Masih Relevan untuk Wilayah Pinggiran

Espos/Agoes RudiantoPADAT KARYA-Warga menyelesaikan pembuatan kolam lele dalam program padat karya produktif di daerah Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Selasa (25 - 8). Material bangunan berupa pasir dan batu bata dikeluhkan karena kualitasnya rendah.
14 Mei 2017 00:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Kegiatan padat karya dinilai masih cukup relevan untuk mendukung pembangunan infrastruktur daerah

Harianjogja.com, KULONPROGO-Kegiatan padat karya dinilai masih cukup relevan untuk mendukung pembangunan infrastruktur daerah. Tenaga kerja lokal juga dapat lebih diberdayakan sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kulonprogo, Aji Pangaribawa, Jumat (12/5/2017). Menurutnya, kegiatan padat karya sangat dibutuhkan dalam akselarasi pembangunan fisik di wilayah pinggiran, termasuk Kulonprogo. “Ini sekaligus bisa memberdayakan tenaga kerja lokal sebagai pelaksana kegiatan,” kata Aji.

Aji lalu berharap padat karya tetap dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Jika perlu, intensitas maupun anggaran pendukung kegiatan tersebut juga ditingkatkan.

Sementara itu, sebanyak dua paket program padat karya dilaksanakan di Kelurahan Wates, Kulonprogo pada tahun ini. Lurah Wates, Agus Wasana mengatakan, kegiatan itu dilaksanakan di dua titik, yaitu pembangunan talud drainase di Punukan dan jalan corblok di Sebokarang.

“Nilai masing-masing proyek mencapai Rp79,84 juta. Itu dibagi untuk pembelian bahan material sebesar Rp44 juta dan upah tenaga kerja Rp35,84 juta,” ujar Agus.

Agus memaparkan, pembangunan jalan corblok diharapkan meningkatkan kualitas akses jalan kampung sehingga lebih nyaman dilalui. Sedangkan talut drainase diharapkan mengurangi dampak banyaknya volume aliran air yang kerap mengakibatkan banjir pada musim hujan. “Talud drainase dibangun tepat di sisi timur pinggir jalan tembus antara wilayah Punukan dan Blumbang,” ucap Agus.

Agus lalu mengatakan, kegiatan padat karya kelurahannya selama ini difokuskan untuk tiga RW yang lokasinya memang berada di pinggiran, yaitu Punukan, Beji, dan Sebokarang. Ketiganya mendapatkan prioritas karena pembangunan fisik di sana selama ini dianggap belum maksimal.