Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Petugas kepolisian bersama dengan TNI dan anggota FPRB Kalurahan Kemadang saat meninjau lokasi tanah ambles di lahan pertanian di Padukuhan Ngelo. Kamis (22/1/2026). /Istimewa BPBD Gunungkidul.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Fenomena tanah ambles kembali ditemukan di wilayah Gunungkidul. Kali ini, amblesan tanah atau sinkhole muncul di lahan pertanian warga Padukuhan Ngelo, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, sehingga memicu kewaspadaan pemerintah kalurahan dan masyarakat sekitar.
Lokasi tanah ambles berada di area persawahan milik warga dan relatif jauh dari permukiman, sehingga kejadian tersebut tidak langsung terpantau. Aparat kalurahan memastikan akan memasang papan peringatan di sekitar lokasi untuk mencegah risiko kecelakaan saat warga beraktivitas.
Jogoboyo Kemadang, Guntoyo, menjelaskan bahwa waktu pasti terjadinya tanah ambles belum diketahui. Hal itu disebabkan posisi lahan berada di kawasan pertanian yang jarang dilalui warga.
“Kami tidak tahu persis kapan amblesannya terjadi, karena lokasinya jauh dari permukiman warga,” ujar Guntoyo, Kamis (22/1/2026).
Menurut Guntoyo, keberadaan tanah ambles baru diketahui pada Senin (12/1/2026) lalu. Saat itu, pemilik lahan bernama Sutino mendatangi sawahnya untuk memantau tanaman padi yang sedang ditanam.
“Pemilik lahan kaget ketika sampai di lokasi karena mendapati tanah ambles di area sawah yang digarap,” katanya.
Ia menambahkan, sebelum kejadian tersebut wilayah Kemadang sempat diguyur hujan deras akibat cuaca ekstrem. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, amblesan tanah tersebut memiliki panjang antara 3 hingga 6 meter dengan kedalaman sekitar lima meter.
“Kejadian ini sudah kami laporkan ke BPBD Gunungkidul,” ungkap Guntoyo.
Meski hingga kini belum menimbulkan dampak besar, kekhawatiran tetap muncul dari pemilik lahan. Pasalnya, curah hujan masih berpotensi tinggi sehingga amblesan dikhawatirkan dapat meluas.
“Yang dikhawatirkan amblesannya semakin besar dan merusak lahan pertanian. Di situ tidak hanya padi, tetapi juga ditanami rumput gajah untuk pakan ternak,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kalurahan berencana memasang papan peringatan di sekitar lokasi tanah ambles. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat saat melintas atau beraktivitas di area tersebut.
“Sudah dilakukan asesmen oleh Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) Kalurahan Kemadang. Kami mengimbau warga agar berhati-hati ketika berada di sekitar lokasi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait tanah ambles di Padukuhan Ngelo. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan karena masih terdapat potensi amblesan susulan.
“Hasil asesmen sementara mencatat kerugian materi sekitar Rp1 juta. Namun, di sekitar lokasi masih berpotensi terjadi amblesan lanjutan, sehingga masyarakat harus ekstra waspada,” ujar Edy.
Edy menambahkan, kejadian tanah ambles di Kemadang bukan yang pertama terjadi sepanjang 2026. Fenomena serupa juga ditemukan di wilayah Padukuhan Bolang, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang.
“Di Panggang, amblesan tanah terjadi tepat di atas rumah warga sehingga keluarga yang terdampak harus mengungsi ke tempat yang lebih aman,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.