Advertisement
Leptospirosis Mengintai Saat Musim Hujan, Risiko Kematian Tinggi
Leptospirosis / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Leptospirosis masih menjadi penyakit infeksi yang kerap terabaikan, meski menyimpan risiko kematian yang cukup tinggi. Penyakit zoonosis ini banyak ditemukan di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia, terutama saat musim hujan dan banjir ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran bakteri penyebab infeksi.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tri Wulandari K, menjelaskan leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang secara alami hidup di ginjal tikus.
Advertisement
Bakteri tersebut dikeluarkan melalui urine tikus dan kemudian mencemari tanah, air, serta lingkungan di sekitarnya. Urine tikus yang mengandung bakteri Leptospira tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga dapat menginfeksi hewan lain seperti ternak maupun hewan domestik.
"Hewan-hewan ini selanjutnya berpotensi menjadi sumber penularan baru,” ujar Tri, dikutip Kamis (22/1/2026).
BACA JUGA
Lingkungan yang telah terkontaminasi urin tikus menjadi media utama penularan leptospirosis pada manusia. Meski angka kejadiannya tidak setinggi beberapa penyakit menular lain, leptospirosis memiliki case fatality rate atau tingkat kematian yang relatif tinggi sehingga membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Menurut Tri, hingga saat ini leptospirosis masih tergolong penyakit yang belum menjadi prioritas utama dalam sistem penanganan kesehatan masyarakat, padahal potensi dampaknya cukup besar, terutama di daerah rawan banjir.
Penularan leptospirosis terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang terluka, selaput lendir, atau tertelan secara tidak sengaja saat seseorang bersentuhan dengan air maupun lingkungan yang terkontaminasi urin tikus. Risiko infeksi meningkat tajam pada musim hujan, khususnya di wilayah yang tergenang air atau terdampak banjir.
“Penularan terjadi ketika seseorang kontak dengan air atau lingkungan yang tercemar urin tikus, baik melalui luka pada kulit, selaput lendir, maupun tertelan secara tidak sengaja. Kondisi ini sering terjadi saat musim hujan dan banjir,” katanya.
Oleh karena itu, Tri mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di lingkungan berisiko. Penggunaan alas kaki, sarung tangan, serta upaya menghindari kontak langsung dengan genangan air yang berpotensi terkontaminasi menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Menurutnya setelah bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh, gejala awal leptospirosis umumnya ditandai dengan demam. Namun, pada kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan serius pada organ vital.
Gejala awal biasanya demam, tetapi infeksi bisa berlanjut menjadi kerusakan organ dalam seperti ginjal dan jantung. Tingkat keparahan juga dipengaruhi oleh jenis bakteri Leptospira karena terdapat beberapa tipe yang berbeda.
"Inilah yang membuat leptospirosis berbahaya dan berpotensi mematikan,” terangnya.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Tri mendorong pemerintah untuk meningkatkan prioritas penanganan leptospirosis, khususnya pada musim hujan. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan air yang terkontaminasi, guna menekan risiko penyebaran penyakit tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Uji Coba Zero ODOL Dimulai 27 Januari 2026, Kemenhub Andalkan Digital
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- PSEL Bantul Mulai Disiapkan, Lokasi Ditetapkan
- Disdukcapil Gunungkidul Melarang Profesi Dewa dan Pendekar di KTP
- Cuaca Ekstrem Rusak Dua Sekolah di Sleman, Disdik Siapkan Perbaikan
- Kotak Mirip Pocong Gegerkan Warga Kulonprogo, Polisi: Bukan Bayi
- Pasar Sentul Sepi, Wali Kota Jogja Pastikan Retribusi Dipotong
Advertisement
Advertisement



