Gemar Membaca Tingkatkan Daya Saing di Tingkat Internasional

Gerakan Nasional Gemar Membaca terus disosialisasikan (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
17 Mei 2017 09:40 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Gemar Membaca terus disosialisasikan

Harianjogja.com, BANTUL -- Pemerintah kian optimistis dalam meningkatkan minat baca masyarakatnya. Sadar posisi minat baca Indonesia yang masih rendah, pemerintah, melalui Gerakan Nasional Gemar Membaca, terus mengampanyekan pentingnya membaca buku kepada masyarakat.

Salah satunya adalah kegiatan Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca yang digelar di Grhatama Pustaka, Bantul, Senin (15/5/2017). Dalam kegiatan yang diprakarsai oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY itu, sejumlah narasumber yang berasal dari kalangan pustakawan, legislator, dan penulis buku itu, banyak bercerita mengenai pentingnya buku bagi peningkatan kualitas hidup manusia.

Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Supriyanto misalnya. Dirinya mengatakan, dengan membiasakan membaca, ia percaya bahwa masyarakat Indonesia akan mampu memiliki daya saing di tingkat internasional. “Minimal tingkat Asia Tenggara lah,” katanya.

Ia mencontohkan, banyaknya pekerja asal Indonesia yang menjadi korban kriminalisasi di luar negeri adalah bukti akan rendahnya minat baca itu. Ia yakin, jika para pekerja itu dibekali kualitas literasi yang baik, mereka akan jauh lebih berdaya di negeri tempat mereka bekerja.

Itulah sebabnya, ia berharap masyarakat Indonesia ke depannya bisa menjadikan membaca adalah tradisi dan kebiasaan. Ia percaya, masyarakat Indonesia bukannya tidak bisa membaca, melainkan hanya belum terbiasa membaca.

Hal itu dibenarkan oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda DIY Sulistyo mengakui, kemajuan teknologi saat ini juga sangat mempengaruhi minat baca masyarakat. Saat membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dituturkannya bahwa perjuangan pemerintah dalam mengampanyekan gemar membaca buku itu memang mendapatkan persaingan sengit dari pragmatisme yang ditawarkan oleh media digital. “Terlebih, sejak dulu, masyarakat Indonesia ini dikenal sebagai masyarakat yang gemar menonton, bukan membaca,” cetusnya.

Sementara Komisi X DPR RI selaku pihak pencanang program tersebut yang kali ini diwakili oleh Anggota Komisi Esti Wijayanti menjelaskan, Komisi X sejatinya akan terus mendorong Perpusnas untuk menyusun program-program prioritas yang inovatif. Hal itu ditujukan untuk pengembangan perpustakaan serta pembudayaan kegemaran membaca. “Baik di tingkat pusat, maupun di daerah,” ucapnya.

Terkait penganggaran untuk perpustakaan, setiap tahun diakuinya terus meningkat. Jika di tahun 2015, angka anggaran untuk perpustakaan berkisar Rp473 miliar, di tahun 2016, anggaran itu meningkat menjadi Rp701 miliar lebih.

Meski begitu, bukan berarti langkahnya itu tanpa kendala. Beberapa di antaranya adalah apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan yang masih rendah, tidak meratanya distribusi buku, hingga masih rendahnya minat kaum cendekia untuk menulis.

Terpisah, penulis buku sekaligus pendiri Radio Buku Muhidin M Dahlan dalam pemaparannya menyebutkan terkait 17 poin penting terkait pentingnya membaca.

Ketujuhbelas poin itu lebih banyak menyoroti pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai tempat membaca. “Perpustakaan muncul sebagai ruang suci upacara membaca,” tuturnya