Pemerintah Yakin Harga Kebutuhan Pokok Tidak akan Naik secara Liar

Pedagang telur ayam negeri di Pasar Kranggan menanti pembeli, sejak harga telur naik, daya beli masyarakat relatif lesu, Kamis (18/5/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
19 Mei 2017 15:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Pemerintah yakin pasar murah bisa menghambat kenaikan harga pangan di pasaran

 
Harianjogja.com, JOGJA-Pemerintah yakin pasar murah bisa menghambat kenaikan harga pangan di pasaran. Sebab, pasar murah digelar di banyak tempat.

Pasar murah yang digelar di DIY tersebar di beberapa tempat. Pasar murah sebagai wujud Gerakan Stabilisasi Pangan ini tidak hanya dilaksanakan di kantor Bulog DIY tetapi juga merata di empat gudang Bulog di Sleman, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul. Pasar murah sebagai penyeimbang harga ini sengaja disebar untuk membatasi pergerakan spekulan.

Selain itu penjualan bahan pangan langsung yang dilakukan agen Bulog yaitu Rumah Pangan Kita (RPK) dilaksanakan di 25 titik untuk tahap awal. Pasar murah juga digelar dalam acara gelar potensi wilayah di kantor kelurahan dan kecamatan se-DIY, pasar tradisional, pasar besar di empat kebupaten, Kios Segoro Amarto, sinergi antar instansi dan lembaga pemerintah/swasta/BUMN melalui koperasi karyawannya, dan juga di masjid dan tempat ibadah lainnya.

Perum Bulog Divre DIY meyakini pasar murah yang digelar selama dua pekan sejak Rabu (17/5/2017) akan membawa pengaruh besar pada kondisi perdagangan di DIY.

Minimal, harga yang ada di pasaran saat ini tidak bertambah naik. Pasokan yang selalu ada membuat permintaan masyarakat akan terpenuhi dan tidak terjadi kelangkaan.

“Kita membatasi harga naik liar,” tutur Kepala Perum Bulog Miftahul Adha pada Harianjogja.com, Kamis (18/5/2017).

Ia yakin pasar murah bisa mengontrol harga. “Kami yakin bisa kembali normal. Seperti yang sekarang harga paling ekstrem adalah bawang putih yang sampai Rp50.000 bahkan Rp60.000, dengan pasar murah bisa kembali normal,” tuturnya.

Sebelumnya, harga bawang putih hanya di kisaran Rp30.000-an per kg.

Mifta menegaskan, upaya penstabilan harga tidak berhenti hanya dua pekan tetapi setelah itu setiap divre diberi kebijakan untuk mengatur jadwalnya sendiri.

Ia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan momentum pasar murah ini guna meminimalisir tindakan spekulan seiring naiknya permintaan pangan menjelang puasa dan lebaran.

Khusus selama dua pekan ini, Bulog menggelontorkan beras medium sebanyak 1.500 ton, C4 super 70 ton, mentik wangi 3 ton, mentik susu 4 ton, beras merah 1 ton, gula pasir 1.750 ton, tepung terigu 1 ton, telur ayam ras 1.000 pack, bawang merah 200 kg, bawang putih lokal 100 kg, bawang putih impor 1 ton, minyak goreng 20.000 liter, dan
daging sapi beku 2,25 ton.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto berharap pasar murah tersebut bisa meredam lonjakan harga di pasar. “Diharapkan meredam tekanan demand serta menjaga pasokan melalui penjualan langsung ke konsumen,” katanya.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Syam Arjayanti mengatakan, pasar murah bertujuan menstabilkan harga.

Dari sisi ketersediaan barang sendiri menurutnya semua kebutuhan pangan DIY bisa terpenuhi tanpa adanya pasar murah. Setiap bulan, kebutuhan beras di DIY mencapai 32.083 ton, gula pasir 2.815 ton, telur 2.306 ton, daging sapi 692 ton, bawang merah 540 ton, dan cabai rawit merah 756 ton.