MUSEUM SANDI : Mengenal Peran Persandian dalam Mempertahankan Kemerdekaan

28 Mei 2017 05:19 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Keberadaan Museum Sandi yang selama ini jarang diketahui anak muda,

 
Harianjogja.com, JOGJA--Keberadaan Museum Sandi yang selama ini jarang diketahui anak muda coba di promosikan lewat acara bertajuk Old Can Be Fun, Selasa Malam (23/5/2017).

“Kami ingin memberikan semangat kepada anak muda agar bisa mengetahui peran persandian dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, karena hal tersebut sangat jarang dibahas di buku sejarah. Tentunya diselingi dengan hiburan-hiburan khas anak muda,” jelas Kepala Museum Sandi, Setio Budi, ketika ditemui di sela-sela acara.

Setio mengatakan Dinas Kode, cikal bakal Lembaga Sandi Negara, punya peran luar biasa dalam mempertahankan kemerdekaan walau jarang terekspos layaknya para prajurit yang berperang atau diplomat yang terlibat pada Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar.

“Di balik semua perjanjian itu ada peran persandian yang selalu mengirimkan pesan rahasia kepada Presiden Soekarno maupaun sebaliknya,” jelasnya di Museum Sandi yang beralamat di Jalan Faridan, M. Noto No 21, Kota Baru.

Ia menambahkan, gaung Serangan Umum 1 Maret yang menunjukkan eksistensi TNI juga disebarluaskan oleh Dinas Code. Setio menceritakan, berita kemenangan Indonesia segera disebarkan secara estafet lewat radio di Playen, Gunungkidul, kemudian diteruskan ke pemancar di Bukit Tinggi, kemudian diteruskan oleh pemancar militer di Myanmar ke New Delhi (India) lalu sampai ke Washington D.C, Amerika Serikat.

Selain untuk pengenalan sejarah, anak muda, menurut Setio juga penting berkunjung ke Museum Sandi untuk urusan praktis. Ia mengatakan dengan berkunjung ke museum sandi, anak muda bisa belajar banyak tentang persandian.

“Persandian itu bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Misalnya mengirimkan nomor rekening supaya orang lain tidak tahu isinya walaupun sudah dibuka, atau yang paling sederhana adalah password untuk handphone,” jelasnya.

Sebagai informasi, Museum Sandi pertama kali diresmikan pada tanggal 29 Juli 2008. Saat pertama kali didirikan, Museum Sandi masih menumpang di Museum Perjuangan, Mergangsan, Kota Jogja. Baru pada tanggal 29 Januari 2014, Museum Sandi punya gedung sendiri.

Madya Utama, dosen Teologi Universitas Sanata Dharma yang hadir dalam acara Old Can Be Fun mengatakan, belajar sejarah sangat penting bagi anak muda. Ia mengatakan dengan belajar sejarah, seseorang dapat belajar hal yang baik dan buruk.

“Supaya ke depannya kita bisa membentuk sejarah yang lebih baik. Karena dengan belajar sejarah kita membongkar yang buruk untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang,” jelasnya.