Wisata Bergeser ke Pedesaan, Homestay Perlu Diperbanyak

29 Mei 2017 20:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Pergeseran tren berwisata menurutnya harus disikapi dengan tangan terbuka dan pemikiran yang maju.

 
Harianjogja.com, JOGJA-Target Presiden Joko Widodo mendatangkan 20 juta wisatawan asing ke Indonesia pada 2019 perlu dipersiapkan secara serius. Tidak hanya pengelola obyek wisata yang didorong mengembangkan destinasinya tetapi juga penyedia jasa akomodasi yang harus menyiapkan kamar lebih banyak.

Jasa akomodasi tidak hanya berbicara seputar perhotelan melainkan beragam bentuk penginapan yang bisa menjadi tujuan wisatawan asing. Sudarningsih selaku Kepala Dinas Pariwisata Sleman mendorong desa wisata untuk mengembangkan home stay sebagai salah satu pilihan menginap di daerah pedesaan.

Saat ini, katanya, tren berwisata semakin bergeser ke wisata pedesaan. Wisatawan sudah mulai mencari destinasi lain yang ada di pinggiran dan mencari suasana pedesaan yang kental.

Berdasarkan data kunjungan wisata di Sleman pada 2016 ada 2,1 juta wisatawan yang berwisata di Sleman. Sementara sampai menjelang pertengahan 2017 ini sudah ada 5 juta wisatawan. Ia menargetkan sampai pengujung tahun bisa mencapai 6 juta wisatawan.

Pergeseran tren berwisata menurutnya harus disikapi dengan tangan terbuka dan pemikiran yang maju. Masyarakat yang ada di desa wisata perlu mengelola tempat tinggalnya untuk dikemas menjadi home stay dan kemudian ditawarkan pada para tamu.

"Jadi konsep homestay ya benar-benar menggunakan rumah warga, jadi wisatawan merasakan seutuhnya bagaimana nikmatnya tinggal di desa," katanya pada Harianjogja.com belum lama ini.

Moratorium pembangunan hotel yang diberlakukan di Sleman membuat jumlah kamar yang ada tidak bisa bertambah. Perempuan yang akrab disapa Ning ini pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan adanya moratorium itu untuk menyediakan jasa penginapan dalam bentuk homestay.

Saat ini, Kabupaten Sleman sudah memiliki 31 desa wisata aktif. Sembilan di antaranya masuk kategori mandiri, 12 berkembang, dan 10 tumbuh. Dari 31 desa wisata, baru 10 desa wisata yang memiliki homestay dengan jumlah kamar 300-an.

Menurutnya, upaya mempromosikan desa wisata di telinga wisawatan asing tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Stakeholder seperti public relation perhotelan juga perlu ambil bagian dalam mempromosikan.

Irul Gazali selaku Ketua Keluarga Public Relations Yogyakarta (Kapurel) siap membantu mempromosikan Sleman kepada tamu yang datang di hotel-hotel tempat mereka bekerja. "Kami bantu mempromosikan daya tarik yang ada di masing-masing destinasi," katanya.