Advertisement
BEM KM UGM Belajar Jurnalistik di Harian Jogja
Advertisement
Sebanyak 17 mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) belajar jurnalistik di Harian Jogja, Jumat (9/9/2017).
Harianjogja.com, JOGJA- Sebanyak 17 mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) belajar jurnalistik di Harian Jogja, Jumat (9/9/2017).
Advertisement
Mereka diterima oleh Redaktur Pelaksana Harian Jogja, Nugroho Nurcahyo. Kepada para mahasiswa, Nugroho Nurcahyo yang akrab disapa Popon ini menjelaskan tentang profil Harian Jogja serta proses produksi berita.
Di sela mendengarkan pemaparan tersebut, mahasiswa antusias bertanya tentang penulisan di media massa. Salah satu peserta, Dani menanyakan tentang kemungkinan mengirim tulisan di Harian Jogja. "Apakah kami sebagai mahasiswa atua pembaca bisa mengirim tulisan untuk dimuat di Harian Jogja," tanyanya.
Menjawab pertanyaan itu, Popon menjelaskan bahwa Harian Jogja memiliki rubrik "Aspirasi" yang berisi tulisan opini dari pembaca. Khusus edisi hari Rabu, rubrik ini menyediakan kolom khusus "Suara Mahasiswa" yang berisi tulisan dari mahasiswa.
"Tema untuk tulisan ditentukan oleh Redaksi, dan akan disebutkan di edisi sebelumnya, jadi tulisan harus mengikuti tema tersebut," jelasnya.
Dalam satu edisi, biasanya akan dimuat dua tulisan mahasiswa. Satu tulisan berkisar 3.500 hingga 5.000 karakter. Popon menegaskan, agar tulisan dimuat, harus memenuhi syarat, singkat, padat dan memiliki opini yang jelas.
Peserta lain, Farhan, mempertanyakan seperti apa tulisan yang tidak memenuhi syarat. Popon menjelaskan bahwa mengikuti tema adalah syarat utama. Selain itu, tulisan akan dilihat tentang isi materi apakah berisi opini yang mencerahkan atau tidak.
Ia menambahkan, mahasiswa juga bisa menulis di kolom aspirasi umum, yang ditujukan bagi semua kalangan. Namun, persaingan untuk mengisi kolom ini lebih ketat. Tulisan ini tidak terbatas pada tema tertentu, pengirim dibebaskan untuk memilih tema.
"Meski demikian, tetap perlu untuk melihat konteks kekinian. Tulisan yang membahas tema kekinian akan lebih berpeluang dimuat daripada tulisan tanpa konteks," jelas Popon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- WFH Jumat untuk ASN Sleman Mulai Digodok, Layanan Publik Tetap Jalan
- Jumat Agung, Tablo Salib di Gereja Pugeran Jogja Dihidupkan Anak Muda
- Kunjungi Museum Andi Bayou, DPRD DIY Susun Regulasi Baru
- Angin Kencang Terjang Sleman, Pohon Tumbang Timpa Mobil dan Rumah
Advertisement
Advertisement





