Advertisement
Mengapa Rajin Salat Tapi Suka Korupsi?

Advertisement
Laku beragama baru sebatas ritual.
Harianjogja.com, JOGJA--Laku beragama di Indonesia selama ini dianggap masih terlalu fokus pada aspek bentuk atau ritual dan belum sampai pada taraf isi.
Advertisement
Akademisi UIN Sunan Kalijaga Syafa’atun Almirzanah menyebut laku beragama yang hanya fokus dengan tindakan ibadah sebagai “formalitas beragama”. Menurutnya, hal ini terjadi karena tiga elemen dalam agama yaitu historical institutional (ritual, doktrin dan sebagainya), intellectual dan mistycal tidak dikembangkan seluruhnya.
“Intellectual dan mistycal tidak dibangun, yang ditekankan hanya ritualnya saja sehingga muncul persoalan. Supaya agama tumbuh menjadi bagus ketiganya harus dikembangkan,” ucapnya di Jogjakarta Plaza Hotel, Minggu (22/10/2017).
Ia menyatakan orang yang terjebak dalam formalitas agama nyaris tidak menunjukkan perubahan perilaku. Dengan kata lain tidak ada efek dari ritual. Buktinya, kata Almirzanah orang-orang yang rajin salat masih saja suka korupsi.
Fenomena ini, tambahnya, tidak hanya terjadi di agama Islam saja tapi juga di agama lain. Almirzanah menambahkan, dalam salah satu sesi Focus Group Discussion (FGD) Bisikan dari Jogja : Refleksi, Evaluasi dan Rekomendasi Bidang Kebudayaan Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK yang digelar di Jogjakarta Plaza Hotel, ada yang mengusulkan pembentukan lembaga keagamaan di luar Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengatasi permasalahan tersebut.
“Tadi sarannya adalah memberdayakan lembaga di luar MUI sehingga MUI tidak menjadi satu-satunya rujukan agama Islam, sehingga ada interpretasi lain.”
Sementara itu, Mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, mengungkapkan hingga saat ini belum terjadi internalisasi ajaran agama yang menyeluruh. Agama seakan-akan belum mampu mengarakan pemeluknya kearah yang lebih baik.
“Sesunguhnya agama jika dipelajari dengan baik dan otentik. Enak kok. Saya bergaul dengan ateis bisa. Konsepnya, manusia itu satu. Itu yang harus dipegang, tidak hanya islam.”
Ia menambahkan, apa yang dilakukan oleh para teroris dengan menjalankan apa yang ia sebut sebagai “Teologi Kebenaran Tunggal” lama kelamaan akan membuat agama ditolak oleh masyarakat karena yang berbeda harus segera dimusnahkan.
Padahal agama, imbuhnya, adalah sesuatu yang menghidupakan peradaban, akal budi, kreativitas dan pemikiran kritis. “Apa yang dilakukan [teroris] adalah kejahatan bagi kemanusiaan. Untuk mengatasi itu perlu pendekatan yang menggunakan bahasa hati dan sosio ekonomi,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement

Kebun Bunga Lor JEC Jadi Destinasi Wisata Baru di Banguntapan Bantul
Advertisement
Berita Populer
- Merespons Situasi Terkini, Muhammadiyah: Tahan Diri, Hentikan Kekerasan
- Soal Kericuhan di DIY, Sultan HB X: Harapan Saya Sudah Selesai Ya
- Senin 1 September 2025 Akan Ada Demo Lagi, Pemda DIY Bersiap
- Jadwal KRL Jogja Solo Hari Ini, Minggu 31 Agustus 2025
- Jadwal KRL Solo Jogja Hari Ini, Minggu 31 Agustus 2025
Advertisement
Advertisement