Advertisement
Pentas Tengah Minggu, Angkasa Wutah Getihku Ramai Penonton
Advertisement
Walaupun pentas di tengah minggu, Kethoprak Conthong Yogyakarta sukses gelar pentas Angkasa Wutah Getihku
Harianjogja.com, JOGJA-- Walaupun pentas di tengah minggu, Kethoprak Conthong Yogyakarta sukses gelar pentas Angkasa Wutah Getihku, Kamis (26/10/2017). Hal itu terbukti pada pagelaran yang terakhir itu tempat duduk lesehan membludak terisi hingga diluar tikar yang disediakan.
Advertisement
Lakon Angkasa Wutah Getihku bercerita tentang seorang tentara yang hidup saat peristiwa pengeboman landasan pacu Maguwo Harjo yang saat ini menjadi Nama Adisucipto. Mengambil latar DIY dalam upaya pertahanan Republik Indonesia, tentara yang bernama Tumenggung Reksa Angkasa Diangkat menjadi Lurah Prajurit Gegana.
Jalan hidupnya yang selalu mengendepankan kepentingan Negara Swarna Bumi itu harus mendapatkan cobaan berliku dari dicopot pangkatnya hingga diambil rumahnya.
Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso mengatakan, pementasan ini juga sedikit dipaksakan. Walaupun tidak mengaku apa sebabnya namun ia tetap tidak puas akan ramainya pengunjung yang datang.
“Bukan begitu, tujuan kami ini untuk mengincar wisatawan, tapi tidak apa apa asalkan penonton mengerti cerita diambil dari kisah nyata,” ujarnya dengan bertelanjang dada selepas berganti kostum.
Dirinya mengatakan, naskah yang dibuatnya itu tidak lama dalam pengerjaan dari membuat alur hingga dialognya. Adapun kesulitan yang ia dapat ialah saat akan mencari cerita apa yang akan ia buat.
“Biasanya pas baca, tiba tiba muncul, nah yang ini [latar bekalang mempertahankan kemerdekaan] sudah tiga kali kita buat, dari masyarakat, tentara Belanda, dan saat ini soal tentara angkasa,”jelasnya.
Adapun anggapan dirinya memlintir sejarah itu adalah hal yang lumrah dalam dunia seni. Menurutnya hal tersebut adalah efek dari dramatisasi dalam seni. Ia tidak mau cerita yang ditulisnya menjadi monoton dan kaku karena tidak terpaku dalam hal sejarah.
"Ini seni, saya juga ditawari proyek bersama arkeolog, katanya suruh nulis dan bermain di situs itu, dan dia harus mau di dramatisir," ujarnya.
Saat akhir wawancara, ia berpesan dengan adanya pentas ini, selain wisatawan domestik memiliki agenda wisata di DIY sejarah yang berada didalamnya bisa dimengerti penonton.
"Saya buat dari sejarah, legenda, serat, dan apa saja yang nantinya akan saya dramatisir dengan media humor agar sampai ke penoton," jelasnya pria berambut putih itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Iran Tolak Usulan Damai AS, Konflik Timur Tengah Kembali Memanas
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Duel Antar Geng Berujung Pembacokan di Pakualaman Jogja
- WFH Jumat untuk ASN Sleman Mulai Digodok, Layanan Publik Tetap Jalan
- Jumat Agung, Tablo Salib di Gereja Pugeran Jogja Dihidupkan Anak Muda
- Kunjungi Museum Andi Bayou, DPRD DIY Susun Regulasi Baru
- Angin Kencang Terjang Sleman, Pohon Tumbang Timpa Mobil dan Rumah
Advertisement
Advertisement




