Rendahnya Regenerasi Pendonor Darah di Kulonprogo

19 Januari 2018 17:20 WIB Beny Prasetya Kulonprogo Share :

Palang Merah Indonesia (PMI) Kulonprogo kesulitan untuk melakukan regenerasi penderma di Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Palang Merah Indonesia (PMI) Kulonprogo kesulitan untuk melakukan regenerasi penderma di Kulonprogo.

Menurut Kepala Bagian Teknis, PMI Kulonprogo, Eti Herani, regenerasi penderma di Kulonprogo saat ini terbilang minim. Kebanyakan penderma yang ada di kabupaten geblek ini malah berumur 30 tahun ke atas.

"Memang untuk yang berusia remaja, seperti pelajar dan mahasiswa sedikit jumlahnya. Hal itu menjadi tantangan kita untuk memperbanyak," ungkapnya, Kamis (18/1/2018).

Kurangnya regenerasi itu sebenarnya telah lama diketahui PMI Kulonprogo. Tatkala libur kuliah berlangsung, Kulonprogo  tidak mengalami penurunan jumlah penderma seperti yang terjadi di PMI Jogja. Malah penurunan jumlah penderma di Kulonprogo terjadi saat libur biasa dan bulan puasa.

"Karena yang menjadi pendonor orang Kulonprogo sendiri, jadi turunnya di saat mereka liburan atau bulan puasa," katanya.

Terkait besarannya, Eti tidak bisa memastikan presentase umur penderma di Kulonprogo. Namun Eti meyakini jumlah penderma usia remaja tengah mengalami penurunan.

"Kalau mereka sekali memberikan darah biasanya kembali lagi. Makanya untuk mengajak remaja untuk mendonor darah memang sedang menjadi sasaran di 2018 ini," ungkapnya.

Sebenarnya, program sosialisasi dan event di sekolah, universitas, dan karangtaruna telah dilakukan PMI. Hanya saja, program untuk menggaet remaja untuk menjadi penderma masih belum menunjukkan hasil yang baik.

"Makanya kita gencar promosi di sekolah dan karangtaruna. Kalau sudah membuat kelompok donor darah kami akan maintenance mereka, tiga bulan sekali," katanya.

Sementara Mahasiswi Institut Perguruan dan Ilmu Pendidikan, Fina Melianisa, 21, mengungkapkan dirinya tidak melakukan kegiatan donor darah selama ini. Hanya saja, dirinya memang menginginkan bahwa kegiatan bersifat amal itu ia lakukan.

"Bukan saya tidak berani, hanya saja saya tidak cukup bobotnya," kata mahasiswi semester lima itu.