Bangket di Bantul Ambrol, Rumah Tertimbun

22 Januari 2018 12:22 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Dua keluarga yang menghuni rumah tersebut terpaksa harus mengungsi

Harianjogja.com, BANTUL-Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Bantul selama dua hari, sebuah tebing yang sudah ditutup beton (bangket) setinggi 15 meter Dusun Seropan, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo ambrol. Akibatnya rumah milik Sogiyono, 55, yang berada tepat di bawah bangket tertimbun tanah longsor. Dua keluarga yang menghuni rumah tersebut terpaksa harus mengungsi.

Rumah tersebut dihuni oleh Sogiyono, dan istrinya yaitu Lanjar, serta anak, menantu, dan seorang cucunya. Menantu Sogiyono, Widodo mengatakan kejadian tersebut bermula saat hujan mengguyur sejak Jumat (19/1/2018) malam. Hujan menurutnya tidak terlalu lebat namun berlangsung terus menerus. Akhirnya Minggu pagi sekitar pukul 04.30 WIB, ia yang tengah tidur di salah satu ruangan mendengar suara gemuruh dari sisi barat rumahnya.

Tak lama kemudian ia merasa seperti ada yang menghantam tembok rumahnya. Besarnya hentakan yang dirasakannya, akibat benturan material beton dinding bangket sepanjang 12 meter menghantam tembok rumah hingga jebol. "Saya lihat tembok tiga ruangan yang samping itu sudah jebol, batu tanah dan tembok bangket sudah masuk," katanya.

Widodo mengaku saat kejadian berlangsung, ketiga ruangan itu kosong karena sedang tidak digunakan. Pasalnya malam sebelumnya, ibu dan anak Widodo sudah mengungsi di rumah kerabatnya lantaran khawatir terjadi longsor. Setelah kejadian tersebut, warga sekitar membantu pemilik rumah menyelamatkan perabot dan beberapa bagian ruangan yang terkena material, dibantu pihak kepolisian dan sejumlah komunitas relawan. Mereka juga membuat saluran aliran air untuk mengantisipasi longsor makin meluas. Sedangkan material longsor berupa batu, beton, dan tanah sementara tidak dibersihkan agar tidak terjadi longsor yang lebih besar.

Salah seorang warga setempat yang membantu evakuasi, Ngadiran menyebut bangket tersebut baru berusia sekitar dua tahun. Tingginya bangket dan guyuran hujan yang terus menerus diduga menjadi penyebab longsor. Selain kejadian tersebut, di Dusun Seropan telah terjadi beberapa kali longsor. Akibatnya dua sekolah, akses jalan, dan pemakaman umum rusak akibat tanah yang ambles dan longsor pada akhir 2017 lalu. "Hujannya dari Jumat sampai tadi malam, ditambah angin," ucapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Bantul, Dwi Daryanto mengatakan longsor yang menimpa rumah Sogiyono tersebut salah satunya disebabkan tingginya bangket. Pihaknya mengaku sudah bertemu dengan pemilik bangket tersebut dan menyarankan agar diselesaikan secara keluargaan. Untuk sementara waktu, Dwi menyarankan agar masyarakat di Dusun Seropan terus meningkatkan kewaspadaan. Menurutnya langkah antisipasi yang dilakukan oleh Sogiyono dan keluarganya sudah baik.

Pada saat terjadi hujan terus menerus warga yang berada di rumah dengan potensi longsor sebaiknya mengungsi. "Jadi meskipun longsor merusak rumah, tidak ada korban jiwa. Saya apresiasi yang dilakukan Pak Sogiyono dan istrinya karena pada saat hujan kemarin sudah mengungsi dan ruangan yang dekat dengan tebing tidak dipakai," imbuhnya.

Lebih lanjut Dwi menyatakan jenis dan karakter tanah di Dusun Seropan memang rawan longsor.  Hampir seluruh tanah di Desa Muntuk, menurutnya merupakan tanah gembur dan bercampur tanah liat. Sehingga rawan terjadi longsor jika diguyur hujan terus menerus.

Oleh sebab itu pihaknya akan mengirimkan surat permohonan kajian kepada Badan Geologi Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mengkaji tanah di Dusun Seropan dan Desa Karangtengah, Imogiri. "Dari kajian Badan Geologi Bandung itu, kita bisa mendapat rekomdasi tentang kelayakan lokasi ini [Dusun Seropan] untuk tempat tinggal," tuturnya.