Berita-Berita Sampah Tak Akan Berumur Panjang di Facebook

23 Januari 2018 10:55 WIB Jogja Share :

Facebook akan memprioritaskan berita-berita yang terpercaya, informatif dan bersifat lokal

Harianjogja.com, JOGJA-Setelah mengumumkan upaya untuk mengeratkan hubungan dengan kerabat dan keluarga, Facebook akan memilih berita-berita dari media massa yang laik tayang di lini masa di tahun ini.

New year, new me. Tahun baru, pribadi baru. Slogan itu kerap kali muncul sebagai resolusi di awal tahun. Meski tidak sedikit yang menganggapnya sebagai pernyataan klise, paling tidak itu menjadi tekad Facebook pada 2018. Facebook yang kini memiliki dua miliar pengguna aktif di dunia hanya akan menampilkan berita-berita berkualitas. Dengan demikian, berita-berita sampah maupun hoaks yang selama ini berseliweran dan dibagikan banyak akun bakal berkurang drastis atau bahkan lenyap.

“Kami memprioritaskan berita-berita yang terpercaya, informatif dan bersifat lokal. Kami akan memulainya pada pekan depan,” tulis CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui akun Facebook-nya, Minggu (21/1/2018).

Hoaks dan berita-berita yang menyulut kebencian menjadi perhatian utama karena membanjiri lini massa Facebook saat Amerika Serikat menghelat Pemilihan Presiden 2016. Maraknya berita palsu dituding sebagai penyebab kemenangan Donald Trump.

Roger McNamee, pengusaha yang pada 2006 mencegah Zuckerberg menjual seluruh saham Facebook, mencela Zuckerberg yang dianggap lalai membendung hoaks di jejaring sosial miliknya. McNamee mengungkapkan kekecewaannya terhadap Facebook dengan menulis artikel di tiga media massa, The Washington Monthly, The Washington Post, dan The Guardian selama sepekan kemarin.

“Platform ini dieksploitasi oleh berbagai aktor jahat, termasuk pendukung ekstrimisme. Namun, manajemen Facebook tidak bertanggung jawab. Pengguna Facebook, saya ingatkan, tidak selalu setuju. Facebook berisiko menjadi racun,” ujar dia seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (17/1/2018).

McNamee mendesak agar jejaring sosial yang didirikan pada 2004 ini menerapkan algoritma yang bisa mencegah penyebar hoaks leluasa bergerak. “Facebook perlu mengubah prioritas algoritma dan melengkapi kembali model bisnisnya,” tutur dia.

Saat ini, Facebook dan perusahaan teknologi lainnya berada di bawah pengawasan Kongres Amerika Serikat. Algoritma yang mereka terapkan sedang diawasi untuk memastikan apakah perusahaan-perusahaan itu turut mempromosikan berita palsu atau tidak.

Noda di lini massa Facebook tak hanya merepotkan orang-orang di Amerika sana, tetapi juga Indonesia. Menurut Statista, pada 2017 pengguna Facebook di Indonesia mencapai 126 juta. Pemakai Facebook dari Indonesia berada di urutan keempat terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat, India dan Brasil. Berita maupun tanggapan teman atas isu terkini menjadi salah satu yang menarik bagi pemakai Facebook.

“Buka FB [Facebook] pengin update teman-teman dan saudara saja sebenarnya, sama pengin lihat komentar mereka terhadap suatu isu, seru juga,” ujar Wilda, karyawan swasta berusia 31 tahun.

Belakangan, dia menganggap Facebook bukan lagi menjadi menjadi tempat yang menyenangkan. Gara-gara isu politik, Wilda harus pandai-pandai menjaga hubungan. Dalam isu sensitif, dia memilih tak angkat suara. “Kalau isu sensitif sih saya cuma baca aja, enggak ikutan,” kata dia.

Galih Gumelar, karyawan swasta di Jakarta berusia 26 tahun bahkan menggunakan Facebook, selama satu jam per hari, sekadar untuk memantau situasi terkini. Galih tak terhubung dengan keluarganya. Bahkan dia kerap menghapus teman-temannya di Facebook yang kurang cocok. “Aku juga jujur, unfriend teman-teman aku yang suka nge-post aneh-aneh,” kata Galih.

Hal yang sama juga dilakukan Eko Listiyo, karyawan swasta berumur 38 tahun. Akun Facebook-nya digunakan untuk mengetahui berita terbaru dari teman-teman dan keluarganya. Alasan itu yang membuatnya membuka laman Facebook tiga kali sehari dengan durasi sekira 15 menit untuk tiap kali akses.

Respons Facebook terhadap maraknya berita palsu lumayan cepat. Head of News Feed Facebook Adam Mosseri menyebut tiga hal penting yang akan menyaring berita yang dianggap laik tayang di lini masa. Pertama, berita yang terpercaya. Kedua, berita yang dinilai informatif. Terakhir, berita yang relevan dengan masyarakat sekitar.

Pekan depan, Facebook akan memulai tes pada area pertama yakni memprioritaskan berita yang berasal dari media terpercaya, berdasarkan penilaian pengguna. Caranya, Facebook menyurvei pengguna di Amerika Serikat. Hasil kajian ini akan menjadi dasar bagi Facebook menyusun peringkat publikasi pada laman lini masa. Pada Agustus 2016, Facebook sudah mengembangkan fitur untuk menyaring konten informatif. Facebook meminta publik memberikan skala satu hingga lima berdasarkan penilaian pentingnya informasi tertentu.

“Kami menyelidiki sampel yang beragam dan representatif dari orang-orang yang menggunakan Facebook di Amerika Serikat untuk mengukur keakraban dan kepercayaan mereka terhadap berbagai sumber berita. Data ini akan membantu untuk menghasilkan peringkat di news feed,” ujar Mosseri.

Praktisi media merespons positif upaya Facebook memberi peringkat terhadap sumber berita dan mengenyahkan berita abal-abal. Presiden News Media Alliance David Chavern menilai peringkat kepercayaan tersebut akan membantu mengatasi informasi palsu.

“Facebook memang harus memberikan prioritas untuk berita-berita dari sumber-sumber terpercaya,” kata Chavern seperti dikutip dari Reuters.

Editor opini BuzzFeed News Tom Gara berpendapat serupa. Ia pun mengharapkan media partisan alias media yang terlalu kentara memihak kelompok tertentu atu media milik partai politik tertentu bakal mendapatkan peringkat rendah dan ujung-ujungnya jarang nongol di lini massa.

“Ini berita yang sangat bagus untuk penerbit berita yang tidak dibenci oleh satu pihak atau pihak yang lain,” tulis Gara di Twitter.

Meski demikian, keraguan tetap menyembul. Business Insider menilai sistem pemeringkatan oleh Facebook juga dapat merugikan media. Misalnya, para pengguna dengan golongan tertentu mungkin saja akan menyebut CNN tidak tepercaya karena lebih menyukai sumber berita yang sesuai dengan paham mereka. Padahal kenyataannya, CNN merupakan sumber informasi yang lebih akurat dibandingkan dengan pilihan mereka.

Business Insider menilai kategori tepercaya versi Facebook tidak sama dengan kategori akurat yang sesuai kaidah jurnalistik. Mark Zuckerberg mengatakan setelah perubahan baru ini, Facebook memperkirakan berita akan menghasilkan sekitar 4% dari total konten yang ada di news feed, turun dari 5% seperti sekarang.

“Ini adalah perubahan besar, tapi berita-berita akan selalu menjadi cara penting bagi orang-orang untuk memulai percakapan tentang berbagai topik. Pembaruan ini tidak akan mengubah jumlah berita yang kalian lihat, tetapi hanya mengubah keseimbangan sumber berita yang dianggap terpercaya oleh komunitas,” tulis Zuckerberg.

Ia mengharapkan langkah Facebook ini akan membantu masyarakat terbebas dari berbagai informasi bohong dan menyesatkan.