Jejak Tionghoa Tertinggal di Kulonprogo

16 Februari 2018 19:55 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Tugu Pagoda Teteg Wetan, penanda kebersamaan warga Tionghoa di Kulonprogo.

Harianjogja.com, KULONPROGO--Hidup dalam keberagamaan bersama warga etnis Tionghoa sudah dijalani bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Begitu juga dengan warga Kulonprogo, hal itu dibuktikan dengan adanya sejumlah toko milik warga Tionghoa yang masih eksis hingga sekarang dan monumen penanda, salah satunya tugu Pagoda yang ada di teteg wetan Kota Wates.

Sekretaris Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulonprogo, Joko Mursito menuturkan, tugu pagoda itu merupakan simbol bahwa hubungan pemerintah daerah Kulonprogo dan warga Kulonprogo bersama dengan warga Tionghoa begitu kuat. Tugu tersebut merupakan persembahan dari warga Tionghoa dan diresmikan pada 23 Desember 1931 sebagai peringatan 25 tahun bertakhtanya Paku Alam VII dan 100 tahun Adikarto.

"Itu simbol kebersamaan dan persatuan. Bahwa orang Tionghoa di Kulonprogo bisa diterima, begitu juga sebaliknya, orang Kulonprogo diterima sebagai saudara oleh mereka," terangnya, Jumat (16/2/2018).

Tugu tersebut pada awalnya berwarna putih, beberapa waktu kemudian diwarnai dengan cat hijau dan kuning seperti warna khas bangunan dan beragam monumen di Kulonprogo pada umumnya. Namun belum lama ini, tugu tersebut kembali dicat dengan warna aslinya, putih dengan sentuhan emas. Perawatan lain, Disbud mendukung lanskap tugu dengan menambah lampu penerangan dan tanaman hias di sekeliling tugu tersebut.

Perkembangan saat ini, jumlah etnis Tionghoa di Kulonprogo memang sedikit, yaitu tidak lebih dari 10 Kepala Keluarga. Namun setidaknya warga Kulonprogo masih terus menjaga hubungan baik dengan mereka.

Sementara itu, Kepala Seksi Kepurbakalaan dan Permuseuman Disbud Kulonprogo, Fitri Atiningsih Fauzatun mengungkapkan, tugu pagoda yang berada di teteg wetan Kota Wates itu merupakan satu dari 14 warisan budaya Kulonprogo yang telah berhasil direkomendasikan sebagai cagar budaya lewat usulan kepada Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Selain tugu pagoda, warisan budaya yang kini telah menjadi cagar budaya adalah SD Negeri Percobaan (Wates), Bale Agung (Wates), Rumah Sunartejo di Sewugalur (Wates), Joglo Karyo Utomo Markas Besar Komando Djawa Kolonel TB Simatupang (Samigaluh).

Ia mengatakan, ada total 300 bangunan warisan budaya yang tersebar di 12 kecamatan di Kulonprogo. Belum semuanya direkomendasikan sebagai cagar budaya lewat Surat Keputusan TACB dan disahkan dalam Peraturan Bupati No.381/C/2016 tentang Cagar Budaya. Pada 2017. Pada 2017, Disbud mengajukan enam warisan budaya seperti Pasar Bangeran (Galur), RS Santo Yusup Boro (Kalibawang), SD Butuh (Lendah), Markas Polsek Wates (Wates), Gereja Kristen Jawa Wates (Wates) sebagai cagar budaya. Mayoritas bangunan telah berusia lebih dari 50 tahun dan telah berhasil dinyatakan direkomendasikan sebagai cagar budaya.

"Saat ini, sudah ada 14 cagar budaya terbit SK dan Perbupnya, 17 lainnya masih dalam proses," terangnya.

Secara keseluruhan kondisi bangunan-bangunan tadi dinyatakan baik. Disbud memiliki sejumlah program untuk rehabilitasi bangunan bersejarah, yang sekiranya membutuhkan perbaikan. Seperti misalnya pada 2015 lalu, dinas melakukan rehabilitasi bangunan gedung Dinas Komunikasi dan Informatika, Bale Agoeng, jembatan Duwet di Kalibawang dan Markas Besar Komando Djawa Kolonel TB Simatupang. Pada 2018, Disbud berencana melakukan rehabilitasi berat untuk bangunan pesanggrahan Bulurejo dengan anggaran sebesar Rp986.366.000.

Fitri berharap, lewat pengajuan status bangunan warisan budaya sebagai cagar budaya, maka bangunan-bangunan tersebut akan semakin terjaga kelestariannya. Anak muda di generasi mendatang juga memiliki catatan riwayat kekayaan budaya yang luar biasa. Langkah melestarikan warisan budaya, juga diikuti dengan sosialisasi kepada pada guru dan tenaga pendidik.