Buya Syafii: Penganut Radikalisme adalah Kaum Putus Asa yang Patut Dikasihani

17 Februari 2018 15:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Para penganut paham radikalisme dan intoleransi sebenarnya adalah kaum berputus asa yang patut dikasihani

Harianjogja.com, JOGJA--Para penganut paham radikalisme dan intoleransi sebenarnya adalah kaum berputus asa yang patut dikasihani. Mereka menjalankan teologi maut karena rindu akan kematian dan takut menjalani kehidupan.

Kemiskinan dan ketimpangan adalah lahan subur berkembangnya ideologi berbahaya tersebut. Parahnya, hal ini juga dimanfaatkan oleh politisi busuk demi meraih kekuasaan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Syafii saat beraudiensi dengan Gerakan Masyarakat Melawan Intoleransi (Gemayomi) di Grha Suara Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan, Sabtu (17/2/2018).

Menurutnya, semua agama tak ada yang mengajarkan kekerasan dan permusuhan, tapi ternyata ada pihak-pihak yang sengaja menggunakan dalil-dalil agama sebagai dasar untuk melegalkan kekerasan. Gejala ekstrimisme ada di setiap agama, tapi yang kerap menjadi sorotan adalah Islam.

"Sudah lama saya mengeluarkan istilah ini dan menyebutnya sebagai rongsokan. Rongsokan ini diimpor dari suatu wilayah yang kalah dan sedang mengalami perang saudara. Itu adalah daki peradaban dan di Indonesia ini dibeli sebagai sesuatu yang berharga. Rongsokan ini juga dimanfaatkan oleh politisi busuk sehingga terjadilah yang namanya karut marut," ujar Buya.

Ia merujuk pada beberapa negara Arab yang hingga kini remuk redam dilanda perang berkepanjangan, seperti Suriah dan Irak. Buya berujar sebagian masyarakat Indonesia tak bisa membedakan mana yang arabisme dan mana yang Islam, atau mana arabisme yang patut dan yang mana yang tidak, sehingga akhirnya ideologi rongsokan yang menganjurkan kekerasan laku dijual.

Ideologi radikal dan intoleran, sebutnya, semakin mendapatkan tempatnya tatkala bertemu dengan kemiskinan dan ketimpangan? sosial yang tinggi. Indonesia, sebut Buya, yang diharapkan bisa menjadi pemimpin untuk mencerahkan peradaab Islam, mengingat Jazirah Arab yang terus membara dan bergejolak, juga belum mampu mengambil peran yang optimal.

"Tapi ini enggak mudah. Pancasila mau dihidupkan kembali, tapi sejak pembacaan awal, saya melihat sila kelima sudah yatim piatu. Ini adalah rumput kering," imbuhnya.

Karena itulah Buya menyebut pendekatan hukum dan kekerasan tidak cukup untuk menangkal dan menumpas radikalisme. Menurutnya perlu juga diupayakan pendekatan sosial ekonomi.