Perpustakaan Grhatama Pustaka Punya Ruang Braille, Namun Jarang Ada Pengunjung

20 Februari 2018 22:20 WIB Sekar Langit Nariswari Bantul Share :

Ruang braille ialah salah satu ruang yang dihadirkan di Perpustakaan Grhatama Pustaka untuk menunjang pengunjung dengan disabilitas

Harianjogja.com, BANTUL-Ruang Braille ialah salah satu ruang yang dihadirkan di Perpustakaan Grhatama Pustaka untuk menunjang pengunjung dengan disabilitas. Sayangnya, pengunjung disabilitas di ruangan ini masih sangat minim, hanya berkisar tiga orang tiap pekannya.

Perpustakaan yang dikelola oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY ini merupakan salah satu fasilitas yang dinyatakan paling ramah penyadang disabilitas oleh Yayasan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) Yogyakarta.

Alasannya, layanan literasi ini tak hanya sekedar dilengkapi jalur landai bagi penggguna kursi roda namun juga bantuan audio visul dan braille bagi penyandang disabilitas lainnya.

Fasilitas ini sedikit lebih lengkap dibandingkan areal publik lainnya yang status inklusinya baru sebatas jalur landai bagi kursi roda. Grhatama Pustaka bahkan memiliki satu ruang khusus dengan koleksi buku berbagai judul dengan huruf braille.

Setidaknya ada 2.000 judul yang tersedia berupa buku palajaran, kitab suci, bahkan novel fiksi. Sayangnya, layanan ini tidak dimanfaatkan dengan baik selama ini.

Harian Jogja mendapati jika ruangan ini menjadi yang paling lengang di antara ruangan koleksi lainnya. Pada Senin (19/2/2018) kemarin, hanya ada setidaknya tiga orang, empat dengan penjaga perpustakaan yang ada di ruangan itu.

Ironisnya, tak ada satupun yang membuka buku dengan huruf braille. Tiga pengunjung memilih lokasi yang paling tenang ini sebagai tempat yang cocok untuk belajar dan melakukan kegiatannya, mungkin karena minim gangguan. Sedangkan buku yang disusun dalam tiga rak besar itu tetap tak tersentuh.

Anis, penjaga perpusatakaan yang ditemui di lokasi membenarkan jika penyandang disabilitas relatif jarang memanfaatkan fasilitas ini. "Seminggu paling cuma ada beberapa, sisanya masyarakat umum," katanya kepada Harianjogja.com.

Kebanyakan masyarakat datang ke ruangan ini karena dianggap sepi dan nyaman. Meskipun luas ruangannya lebih kecil, pengunjungnya juga sedikit.

Penyandang disabilitas juga tak banyak yang datang dengan rutin. Hanya sesekali dengan beberapa didamping oleh orang tua atau temannya. Anis mengaku tak tahu alasan jarangnya pengunjung yang datang. Padahal, sosialisasi dan promosi terus dilakukan atas keberadaan ruangan ini termasuk kerjasama dengan sejumlah yayasan. Tiga petugas di ruangan ini juga dilatih khusus untuk bisa membaca huruf braille agar bisa mengkomodasi pengunjungnya.

Sayangnya selama ini belum banyak yang bisa dilakukan karena keterbatasan pengunjung ini. Perempuan muda ini sendiri berharap masyarakat luas lebih paham akan keberadaan Ruang Braille ini agar pengunjungnya lebih banyak.

Apalagi, banyak koleksi bukunya merupakan buku pelajaran SD dan SMP serta cerita daerah. Tentunya ini sangat bermanfaat bagi penyandang tuna netra yang mungkin masih kesulitan mendapatkan sumber bacaan.

Tak hanya koleksi buku dengan huruf braille, ruangan yang terletak di lantai dua ini juga menjadi lokasi komputer bicara dengan aplikasi Job Acces With Speech (JAWS). Dengan demikian, penyandang tuna rungu juga bisa ikut terbantu sedangkan penyandang tuna netra bisa dibantu dengan audio dari komputer tersebut. Ada dua unit komputer yang tersedia untuk membantu pengunjungnya.

Komputer tersebut akan membacakan teks di layar komputer dengan komplit hingga ke tipe file yang diakses. Keterbatasannya ialah audio yang keluar merupakan bahasa Inggris dengan logat Amerika yang cukup kental. Jadinya ini penyandang disabilitas yang tidak fasih bahasa asing ini akan sedikit kesulitan. Meskipun menurut Anis, sebagian besar penyandang disabilitas yang datang kerap menguasai bahasa tersebut.