Kaus Lukis Manual dari Kampung Cyber Laris Manis di Wisatawan Asing

24 Februari 2018 12:40 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Kaos lukis manual diminati wisatawan mancanegara.

Harianjogja.com, JOGJA--Ketika metode sablon timbul dan sablon resap sudah dianggap semakin biasa, Catur Kurniawan Arianto, 27 warga Jogja memanfaatkan kemampuan melukis yang telah diasah selama tujuh tahun untuk mengembangkan bisnis kaus lukis manualnya.

Terletak di RT 36, Kampung Cyber, Tamansari, Jogja, gerai kaus lukis Catur telah mendulang banyak perhatian dari wisatawan mancanegara. Setidaknya setiap hari ada lima wisatawan mancanegara yang membeli kaosnya. “Motif kaos ini batik dan topeng, tetap ada batiknya supaya lebih berseni dan unsur budayanya tidak hilang. Ini merupakan salah satu batik yang modern,” kata Catur, Jumat (23/2/2018).

Dalam membuat kaus lukis, Catur mengatakan, dibutuhkan keterampilan dan kreativitas tinggi. Jika ada salah coretan dalam melukis, sang pelukis harus improvisasi menjadikan kesalahan tersebut sebagai bentuk dan seni baru. Oleh karena itu, Catur sendiri selalu menganggap bahwa tidak ada yang salah dalam seni.

Kaus yang dilukis oleh Catur kebanyakan bermotif topeng. Menurut Catur, motif topeng sedang banyak diminati oleh pembeli. Hal unik yang dimiliki oleh kaos lukis di Kampung Cyber adalah, setiap kaos pasti memiliki motif yang berbeda. “Motifnya limited edition, setiap kaos pasti motifnya berbeda,” sambung Catur. Harganya pun bervariasi dari Rp200.000 sampai Rp350.000. Semakin rumit motif yang dibuat, maka akan semakin mahal harganya.

Per harinya, Catur pun dapat menjual 15 kaus. Jika dihitung pendapatan rata-rata per bulannya bisa mencapai Rp3.000.000. Catur pun bersyukur atas pendapatan tersebut. Baginya yang terpenting adalah karyanya dapat digemari oleh wisatawan mancanegara.

Kaus yang dilukis oleh Catur kebanyakan bermotif topeng. Menurut Catur, motif topeng sedang banyak diminati oleh pembeli. Hal unik yang dimiliki oleh kaus lukis di Kampung Cyber setiap kaus pasti memiliki motif yang berbeda. Menurut Catur, proses pembuatan motif tersebut memang harus diperlihatkan langsung kepada wisatawan agar memancing minat beli.

Sejak usianya 16 tahun, Catur mempertajam kemampuan membatiknya di Sanggar Kalpika. Sanggar Kalpika adalah tempat regenerasi pelukis kaus satu-satunya di Kampung Cyber. Namun sejak lima tahun lalu, Catur memutuskan untuk beralih mengerjakan kaus lukis. “Soalnya kalau batik bikinnya lama bisa sampe satu minggu, kalau kaus lukis maksimal empat hari udah jadi, jadi bisa lebih cepet dijualnya,” tutup Catur.

Namun Catur memiliki hambatan dalam memasarkan produknya. Pasalnya jika diikutkan pameran pun, produknya selalu kalah bersaing harga dengan batik yang ikut dipamerkan dalam suatu pameran. "Kalau ikut pameran malah rugi. Karena terpaksa jual dengan harga murah, kalau tidak begitu, kalah saing dengan batik yang ikut dipamerkan," kata Catur. Dia pun berharap kerajinan kaos lukis dapat lebih diperhatikan melalui cara pameran khusus.