Malioboro Tutup 2 Jam Saat Pawai Budaya

09 Maret 2018 09:55 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Penutupan Jalan Malioboro dilakukan mulai pukul 15.00-17.00 WIB atau saat pawai dan atraksi

Harianjogja.com, JOGJA-Panitia Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1940 akan menggelar pawai budaya di sepanjang Jalan Malioboro pada Sabtu (10/3/2018) besok. Pawai budaya dengan mengarak 15 ogoh-ogoh atau patung raksasa dimulai pukul 14.00-15.30 WIB.

Tidak hanya pawai ogoh-ogoh, tetapi sebanyak 20 kelompok peserta pawai yang akan melibatkan seribuan orang itu akan menggelar atraksi di Titik Nol Kilometer Jogja. Selama pawai berlangsung, Jalan Malioboro akan ditutup untuk kendaraan umum.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polresta Jogja terkait penutupan Jalan Malioboro dilakukan mulai pukul 15.00-17.00 WIB atau saat pawai dan atraksi,” kata Sekretaris Panitia Hari Raya Nyepi DIY I Nyoman Santiawan dalam jumpa pers di Balai Kota Jogja, Kamis (8/3/2018).

Santiawan mengatakan, pawai ogoh-ogoh di sepanjang Jalan Malioboro merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah digelar sejak empat tahun terakhir. Kegiatan tersebut tidak lepas dari antusiasme masyarakat yang cukup tinggi, terutama masyarakat sekitar pura yang menggelar pawai ogoh-ogoh kemudian membakarnya sebagai simbol menghilangkan sifat-sifat buruk manusia.

Arak-arakan ogoh-ogoh ini akan dibawakan oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (HMHD) dari berbagai kampus di DIY. Selain ogoh-ogoh, ada elemen masyarakat lainnya yang akan menampilkan berbagai kesenian, termasuk forum lintas iman dengan kesenian dari berbagai agama.

Pihaknya memberikan ukuran ogoh-ogoh yang akan diarak tidak lebih dari ketinggian tiga meter dan panjang 2,5 meter. Sementara, tokoh ogoh-ogoh yang ditampilkan diambil dari tokoh Mahabarata, seperti Sugriwa dan Subali. “Harapannya pawai budaya ini bisa mendukung pariwisata Jogja,” ujar Santiawan.

Pawai akan dimulai dari depan kantor DPRD DIY sampai Alun-alun Utara. Setiap peserta akan melakukan atraksi di depan panggung utama di Titik Nol Kilometer Jogja selama beberapa menit.

Santiawan mengatakan, semua ogoh-ogoh yang diarak di Jalan Malioboro itu akan diarak kembali di tiga pura di DIY pada 16 Maret nanti, yakni Pura Padma Bhuana Baciro, Pura Jagatnata Banguntapan, dan Pura Widya Dharma. Setelah diarak, ogoh-ogoh akan dibakar pada pukul 18.00-21.00 WIB, sebagai simbol untuk menghilangkan sifat buruk yang ada dalam diri manusia sebelum penyepian.

Ketua Umum Hari Raya Nyepi DIY I Komang Kesuma mengatakan, pawai budaya merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Raya Nyepi. Sebelumnya berbagai kegiatan sudah dilaksanakan sejak 18 Januari lalu, baik acara ritual keagamaan maupun bakti sosial. Untuk ritual keagamaan di antaranya melalui upacara Melasti di Ngobaran Gunungkidul dan Parangkusumo Bantul, upacara Wonokerti untuk menjaga hutan di Hutan Wonosadi Gunungkidul, dan upacara Gurukerti di Merapi.

Acara puncak akan digelar Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan pada 16 Maret mendatang. Selesai ritual, akan digelar Dharma Santi di Amongrogo. “Dharma Santi ini semacam ramah tamah atau kalau lebaran istilahnya halal bihalal,” ucap Komang.

Pria yang sehari-harinya bertugas di Akademi Angkatan Udara (AAU) sebagai pembina taruan berpangkat Mayor Khusus ini berharap berharap melalui penyepian ini, semua umat Hindu dapat mengharmonisasikan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dan alam. Ia juga berharap penyepian itu dapat memantapkan kerukunan dan persaudaraan sejati sesama manusia.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Humas Polresta Jogja Ajun Komisaris Polisi Partuti mengatakan, penutupan Jalan Malioboro dilakukan hanya saat peserta pawai sudah masuk ke Jalan Malioboro. “Selanjutnya setelah peserta pawai lewat Malioboro penutupan dilakukan situasional seperti biasanya, kalau memang padat bisa dilakukan pengalihan arus,” kata Partuti.