Advertisement

Stigma Sosial Masih Jadi Batu Sandungan Eliminasi Kusta di Sleman

Andreas Yuda Pramono
Selasa, 10 Februari 2026 - 19:57 WIB
Sunartono
Stigma Sosial Masih Jadi Batu Sandungan Eliminasi Kusta di Sleman Ilustrasi gatal/gatal. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Target eliminasi kusta di Kabupaten Sleman belum sepenuhnya berjalan mulus karena kuatnya stigma dan diskriminasi di tengah masyarakat yang membuat penderita enggan memeriksakan diri sejak dini. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan pengobatan karena sebagian pasien baru datang ke fasilitas kesehatan saat penyakit sudah berkembang lebih berat.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Sleman, Khamidah Yuliati, mengungkapkan hingga saat ini masih terdapat sebelas kasus kusta tipe multibasiler (MB) yang dalam penanganan, dengan rentang usia penderita antara 15 hingga 60 tahun. Meski secara kuantitas jumlah kasus tergolong rendah, hambatan sosial berupa stigma dinilai berisiko memperpanjang rantai penularan akibat tertundanya deteksi dini.

Advertisement

Tantangan tersebut semakin kompleks mengingat Sleman, yang dikenal sebagai Bumi Sembada, memiliki tingkat mobilitas penduduk yang tinggi. Karakter wilayah sebagai kawasan pendidikan, perkotaan, sekaligus daerah penyangga Daerah Istimewa Yogyakarta memungkinkan terjadinya perpindahan penduduk dari daerah endemis, baik dalam bentuk kasus lama yang belum terdiagnosis maupun infeksi laten yang baru muncul setelah bertahun-tahun. Dalam kondisi ini, keterbukaan masyarakat untuk memeriksakan diri menjadi faktor krusial, namun justru kerap terhambat oleh rasa takut dikucilkan.

Berbagai mitos mengenai kusta masih hidup di sebagian masyarakat dan memperkuat stigma. Penyakit ini sering dianggap sebagai kutukan, penyakit turunan, atau penyakit yang sangat mudah menular hanya melalui sentuhan. Tidak sedikit pula yang meyakini bahwa penderita kusta pasti mengalami kecacatan permanen dan tidak dapat disembuhkan.

“Padahal, kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan rutin selama enam hingga 12 bulan,” kata Khamidah Yuliati, Selasa (10/2/2026).

Ia menambahkan, dampak stigma tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh anggota keluarga. Anak dari penderita kusta kerap ikut mendapat cap negatif dan dianggap berisiko tertular, meskipun anggapan tersebut tidak memiliki dasar medis. Situasi ini menyebabkan sebagian pasien memilih menutup diri, enggan melapor, menghentikan pengobatan di tengah jalan, atau menjauh dari layanan kesehatan yang sebenarnya tersedia.

Di luar persoalan stigma, upaya eliminasi kusta juga dihadapkan pada sejumlah kendala lain, mulai dari rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat, keterbatasan tenaga kesehatan yang terlatih mengenali gejala awal, hingga faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan, kepadatan hunian, gizi buruk, dan sanitasi lingkungan yang belum memadai.

Keterlambatan penanganan kusta berisiko menimbulkan kecacatan permanen, yang pada akhirnya justru memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap penderita di lingkungan sosialnya.

Secara nasional, eliminasi kusta telah menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Namun pada tataran daerah, penguatan edukasi publik dan penghapusan stigma dinilai sama pentingnya dengan intervensi medis, agar penderita berani mencari pertolongan sejak dini dan upaya eliminasi kusta di Sleman dapat berjalan lebih efektif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Drone Jatuh di Kaesong, Korea Selatan Gerebek 18 Lokasi

Drone Jatuh di Kaesong, Korea Selatan Gerebek 18 Lokasi

News
| Selasa, 10 Februari 2026, 21:07 WIB

Advertisement

Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari

Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari

Wisata
| Senin, 09 Februari 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement