Inovasi di Sleman, Koperasi Diminta Libatkan Pelajar untuk Regenerasi

14 Maret 2018 21:55 WIB Sleman Share :

Dinas Koperasi dan UKM Sleman melakukan reorientasi koperasi di tahun ini

 
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Koperasi dan UKM Sleman melakukan reorientasi koperasi di tahun ini. Regenerasi anggota koperasi mulai digencarkan Dinas Koperasi dan UKM Sleman dengan mengadakan berbagai pelatihan.

Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Sleman, Teguh Budiyanta mengatakan sekarang pihaknya tidak lagi hanya mementingkan kuantitas koperasi yang aktif, tapi lebih mengedepankan kualitas.

“Maka kami melakukan berbagai upaya seperti pelatihan di tahun ini, untuk mengembangkan kualitas koperasi itu sendiri,” ujar Teguh, Selasa (13/3/2018).

“Tahun ini kita mulai meningkatkan pemahaman koperasi kepada generasi muda, mulai dari kalangan pendidikan SMP dan SLTA untuk mengembangkan koperasi siswa,” katanya.

Teguh mengatakan, Dinas Koperasi dan UKM juga mengandalkan organisasi kepemudaan untuk melakukan sosialisasi kepada organisasi-organisasi pemuda lainnya. Tujuannya agar bisa mengembangkan usaha dari organisasi kepemudaan yang berbadan hukum koperasi.

Dalam melakukan pendidikan koperasi terhadap SMP dan SLTA, Teguh mengatakan bahwa pihaknya dibantu oleh Koperasi Mahasiswa (Kopma) yang berbadan hukum. “Keberadaan kopma ini sangat membantu kami dalam pengembangan koperasi di tingkat SMP dan SLTA, mereka ikut melakukan pendampingan,” ujar Teguh.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Dan UKM Kabupaten Sleman, jumlah koperasi mengalami penurunan, dari 2016 sebanyak 656 unit, menurun menjadi 515 unit di 2017.  Sementara, jumlah anggota koperasi meningkat dari 281.027 anggota di 2016 menjadi 282.236 anggota di 2017.

Anggota Forum Pemantau Independen (FORPI) Sleman dan Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hempri Suyatna mengatakan untuk menarik minat generasi muda dalam berkoperasi, harus ada inovasi dan dukungan dari pemerintah.

“Selama ini koperasi tidak benar-benar dianggap secara serius oleh pemerintah,” ujar Hempri.

Hempri mengatakan kurang adanya dukungan dari pemerintah menyebabkan masyarakat terutama kalangan muda kurang tertarik untuk berkoperasi.

“Lihat saja, fasilitas-fasilitas seperti token listrik justru diserahkan ke toko-toko jejaring daripada koperasi,” ujar Hempri.

Hempri mengatakan tidak dilibatkannya koperasi dalam pelayanan publik membuat koperasi tidak berkembang dan akhirnya tidak menarik minat masyarakat. “Di sisi lain, koperasi juga kurang inovatif, di dalam memberikan variasi produk layanan,” katanya.

Jenis koperasi yang berkembang saat ini menurut Hempri hanya koperasi simpan pinjam.