Cahya Supriadi Perkuat Timnas Indonesia, PSIM Jogja Dukung Penuh
Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi resmi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia di ASEAN Championship Hyundai Cup 2026 usai menerima surat dari PSSI.
Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA--Penerapan kurikulum 2013 (K-13) di DIY masih lemah pada standar proses. Evalusi itu merupakan hasil kajian antara Disdikpora DIY bersama Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Disdikpora DIY akan menggenjot guru untuk diberikan pelatihan untuk menguatkan K-13 pada standar proses. Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan pihaknya sudah mengkaji bersama LPMP terkait implementasi K-13.
Hasil evaluasi memang diperlukan penyegaran kepada guru untuk dapat melaksanakan K-13 secara konsisten. Dari hasil kajian itu, item yang paling utama harus disegarkan yaitu di standar proses karena masih lemah, baik di jenjang SD, SMP maupun SMA/SMK.
Kurikulum 2013 memiliki empat standar yaitu standar isi, penilaian, kelulusan dan standar proses. "Di standar proses ini yang kami inginkan di sekolah bisa dilakukan konsistensi sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan bisa mendorong anak memiliki karakter yang baik," katanya, Jumat (13/4/2018).
Ia mengatakan sudah mengundang sekolah terkait evaluasi tersebut. Pihaknya meminta kepada fasilitator penerapan K-13 agar sekolah mampu membangun standar proses dengan baik. Fasilitator merupakan instruktur nasional.
DIY memiliki guru berkualifikasi instruktur nasional sebanyak tujuh orang, instruktur provinsi ada 21 orang dan instruktur kabupaten ada sekitar 20 orang. Keberadaan instruktur ini sangat penting dalam rangka menerapkan K-13. "Karena masih ada guru yang perlu dikembangkan kreativitas mengajarnya," ujar dia.
Baskara Aji menegaskan standar proses akan terus dibenahi, terutama menanamkan proses pembelajaran yang tidak serta merta guru mengajar kemudian murid mendengarkan. Tetapi bisa dimodifikasi sedemikian rupa agar menyenangkan bagi siswa, mulai dari rotasi tempat duduk, hingga proses pembelajaran yang tidak harus dilakukan di dalam kelas, seperti di museum, perpustakaan atau halaman sekolah.
"Proses pembelajaran suatu saat tidak harus pegang alat tulis, bisa diskusi. Contohnya banyak pembelajaran yang menarik," kata dia.
Baskara Aji mengakui membenahi standar proses tidak mudah karena harus mengubah kebiasaan mengajar para guru. Salah satunya kebiasaan tidak diperbolehkannya siswa secara tiba-tiba menyela saat guru sedang menjelaskan. "Mengubah cara berpikir ini yang susah," katanya.
Pelatihan pada tahap pertama telah dilakukan beberapa pekan lalu dalam rangka penyegaran standar proses. Pelatihan lanjutan akan dilakukan pada tahap berikutnya dengan melibatkan guru dari SD hingga SMA/SMK.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kiper PSIM Jogja Cahya Supriadi resmi dipanggil memperkuat Timnas Indonesia di ASEAN Championship Hyundai Cup 2026 usai menerima surat dari PSSI.
DPR AS melalui Jamie Raskin membuka penyelidikan terhadap FIFA dan hubungan Gianni Infantino dengan Presiden Donald Trump. FIFA diminta menyerahkan sejumlah dok
Job Fair Bantul 2026 akan digelar pada 6-7 Agustus di Stadion Sultan Agung. Sebanyak 15 perusahaan membuka sekitar 1.000 lowongan kerja dengan target 750 pencar
TECNO, brand teknologi inovatif berbasis AI, resmi meluncurkan TECNO MEGABOOK K14S. Laptop berukuran 14 inci ini memadukan performa tingg, desain premium
Pablo Nieto menyebut Maverick Vinales bisa dilupakan dalam sehari di MotoGP. Cedera dan konflik dengan KTM membuat masa depannya terancam.
Psikologi mengungkap keterbukaan terhadap pengalaman menjadi sifat yang paling erat kaitannya dengan kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir lintas disipli