Para Korban Penyerangan Gereja St Lidwina Gamping Ungkapkan Trauma Mereka

Suliyono berjalan menuju Gereja St. Lidwina saat melakukan rekayasa ulang kejadian, Kamis (19/4/2018). - Harian Jogja/ Irwan A. Syambudi
19 April 2018 17:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Rekonstruksi penyerangan di Gereja St. Lidwina diikuti oleh beberapa korban, salah satunya Budi. Suasana rekonstruksi diwarnai dengan ketegangan karena beberapa korban masih mengalami trauma.

Dalam rekonstruksi siang hari ini Budi (44) mengikuti dua adegan. Adegan pertama adalah saat dirinya dibacok dari belakang oleh Suliyono dan saat dirinya terjatuh tak sadarkan diri.

"Saya hanya ikut dalam adegan 31, waktu itu saya dibacok dari belakang di bagian kepala dan leher, kemudian Suliyono menyerang jamaah yang lain," kata Budi, Kamis (19/4/2018).

Budi mengaku telah sembuh dari trauma atas kejadian itu. Namun satu minggu setelah kejadian, Budi masih takut dan was-was ketika turun dari kendaraan. "Saya pasti tiap turun dari kendaraan harus tolah toleh ke belakang dulu, masih merasa saya akan dibacok dari belakang," kata Budi, Kamis (19/4/2018).

Saat kejadian, Budi sedang keluar menemani anaknya pergi ke teras gereja. Setelah itu Suliyono membacok kepala dan lehernya dari belakang. Budi mengatakan dalam kejadian itu dia diberi mukjizat, sebab tempurung kepalanya tidak retak. "Sekarang saya sudah tidak trauma lagi, hanya trauma selama seminggu setelah kejadian," kata Budi.

Budi mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan apa yang dialami Yohanes Trianto. Menurut pengamatan Budi, saat proses rekonstruksi berjalan, Yo masih trauma ketika melihat pedang kertas. Sebab ketika kejadian penyerangan, Yo sempat menoleh ke arah pedang saat dibacok dari belakang.

"Pak Permadi dan Pak Mukarto juga hadir rekonstruksi, sempat pada tegang, tapi semua jalan lancar," kata Budi.

Kuasa Hukum Gereja St Lidwina Suki Ratnasari mengatakan Yo sempat beberapa kali menghindari pedang kertas yang digunakan untuk rekonstruksi. Terlihat emosi Yo belum stabil.

"Tetapi setelah ditenangkan, diyakinkan, akhirnya bisa menjalani proses rekonstruksi dengan tenang dan lancar," kata Suki.