RSPS Bantul Raih ISO 27001:2022, Perkuat Keamanan Data Pasien
Sertifikasi ISO 27001:2022 ini menjadi bukti keseriusan RSUD Panembahan Senopati Bantul dalam memberikan layanan yang aman dan profesional
Tumpukan sampah di TPAS Piyungan, Kamis (19/4/2018). Saat ini volume sampah yang dibuang ke TPAS tersebut sudah hampir 600 ton per hari. Meningkat dari tahun lalu yang berkisar 450-500 ton per hari./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL- Balai Pengelolaan Infrastruktur Sanitasi, dan Air Minum Perkotaan (Pisam) DIY, instansi yang menangani tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan memohon maaf kepada warga sekitar TPST yang merasa terganggu akibat yang ditimbulkan dari tumpukan sampah.
"Namanya sampah pasti menimbulkan bau, kami minta maaf jika warga terganggu," kata Kepala Balai Pisam, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi Sumber Daya Mineral DIY, Agung Satrio, melalui sambungan telepon, Jumat (20/4/2018).
Kondisi TPST Piyungan banyak dikeluhkan warga sekitar karena aroma tidak sedap yang ditimbulkan dari sampah, serta debu dari truk-truk pengangkut sampah yang saban hari melintas sekitar pemukiman warga.
Agung tidak menampik kondisi TPST Piyungan saat ini sudah tidak kondusif. Luas lahan TPTS Piyungan hanya 12,5 hektare dengan kapasitas 2,4 juta meter kubik sampah. Kapasitas tersebut sudah terpenuhi sejak dua tahun lalu. Namun sampah yang menumpuk diupayakan sedikit-sedikit ditimbun dengan tanah, sehingga area TPST masih memungkinkan untuk menampung sampah.
Sampah yang dibuang ke lokasi tersebut saat ini sudah mencapai sekitar 600 ton per hari. Meningkat dari tahun lalu yang hanya 450-00 ton per hari. Sementara sampah yang dibuang semua campur aduk mulai dari sampah organik hingga sampah anorganik. Sehingga TPST Piyungan juga berfungsi menjadi tempat pemilahan dan pengolahan sampah.
"Idealnya memang TPST Piyungan itu menjadi tempat pemusnahan sampah. Tapi baru mampu menjadi pengolahan," kata Agung.
Pihaknya tengah mencari investor yang siap untuk memusnahkan sampah. Ia mengaku sudah ada beberapa investor yang bertanya-tanya soal penawaran tersebut. Namun investor masih mempertimbangkannya.
"Salah satunya perusahaan yang akan menjadikan sampah menjadi bahan bakar. Tapi masih belum ada kelanjutan lagi," ujar Agung.
Kepala Pengelola TPST Piyungan, Sarjani mengaku kondisi TPST Piyungan sudah tidak kondusif. Karena tidak ada jam kerja yang pasti. Selama ini truk-truk sampah terus berdatangan selama 24 jam. Sementara sistem pembongkaran sampah di lokasi juga masih manual sehingga antrian truk yang masuk nyaris terjadi setiap hari.
"Terkadang warga mengeluh karena antrian truk sampai depan pemukiman," ucap Sarjani. Sementara jalan masuk TPST Piyungan merupakan jalan milik warga.
Sebelumnya, Anggota DPRD Bantul, Setya meminta metode pengolahan sampah di TPST Piyungan harus diubah sehingga tidak menimbulkan bau. Pihaknya yakin DIY memiliki banyak ahli dalam pengolahan sampah, selama Pemda DIY ada kemauan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal SIM Keliling Gunungkidul Juli 2026 resmi dirilis. Cek lokasi, jam layanan, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.
KWT Sleman dilatih mengembangkan pangan fungsional berbasis pandan dan cabai menjadi produk bernilai tambah untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
Pemerintah menargetkan 40 ribu Kopdes Merah Putih mulai beroperasi Oktober 2026 untuk memperkuat ekonomi desa dan layanan masyarakat.
MTA Pakem dan RSA UGM gelar donor darah di Sleman. Diikuti 150 peserta, bantu penuhi kebutuhan stok darah.
Jadwal KRL Jogja–Solo Minggu 5 Juli 2026 lengkap dari Jogja hingga Palur. Tarif Rp8.000, cek jam keberangkatan terbaru.