Advertisement

Jogja Dinilai "Seksi" bagi Bisnis Penerbangan

Holy Kartika Nurwigati
Sabtu, 28 April 2018 - 09:50 WIB
Bhekti Suryani
Jogja Dinilai Ilustrasi penerbangan - Alamy

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA- Penumpang pesawat terbang Indonesia terus tumbuh dan meningkat setiap tahunnya. Peluang ini menjadi kesempatan bagi maskapai dan Angkasa Pura I dalam menarik lebih banyak penumpang, terutama dari penerbangan internasional.

"DIY merupakan salah satu destinasi unggulan di Indonesia, baik skala nasional maupun internasional. Jadi untuk meningkatkan kunjungan ke Jogja ini sangat terbuka," ujar General Manager Garuda Indonesia Branch Office Jogja, Jubi Prasetyo kepada HarianJogja.com, Jumat (27/4/2018).

Advertisement

Jubi memaparkan peluang untuk menambah frekuensi penerbangan, baik dari maupun ke Jogja sangat terbuka lebar. Sebagai destinasi major, Jubi menambahkan banyak potensi yang bisa dijual.

Melihat peluang tersebut, Jubi mengungkapkan Garuda Indonesia terus berupaya untuk mengkaji berbagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk menambah frekuensi penerbangan Jogja. Terutama untuk penerbangan internasional.

"Kalau saat ini, konektisitas garuda dari Jogja ada 11 penerbangan, dari Bali [ke Jogja] tiga penerbangan dan Surabaya ada satu penerbangan. Kesemuanya juga merupakan gate internasional dan merupakan peluang network yang sangat baik," jelas Jubi.

Sementara itu, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto, Agus Pandu Purnama mengatakan pencapaian peningkatan jumlah penumpang pesawat terbang ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong 20 juta wisatawan pada 2019. Hal itu turut mendongkrak pertumbuhan sentra-sentra pariwisata, sehingga pertumbuhan ini membutuhkan aksesibilitas untuk mendatangkan wisatawan.

"Maka dari itu AP 1 menangkap peluang itu, sehingga sekarang ini ada empat bandara yang dikembangkan dan ditambah kapasitasnya," ungkap Pandu.

Keempat bandara tersebut antara lain Bandara Ngurah Rai di Bali yang melakukan pengembangan apron untuk menambah jumlah pendaratan pesawat. Bandara Ahmad Yani di Semarang juga diupayakan untuk peningkatan kapasitas serta upaya pengembangan akses jalur darat menuju Bandara Adi Sumarmo di Solo.

Sedangkan di Jogja, dengan kapasitas Bandara Inetrnasional Adisutjipto yang terbatas, membuat AP 1 berupaya mengejar pengembangan bandara baru di Kulonprogo. Pasalnya, kapasitas bandara yang semestinya hanya sekitar 1,8 juta penumpang kini harus menampung sedikitnya 8 juta penumpang per tahunnya.

"Dari itu sudah terlihat peluangnya, sehingga membuat kami berani berinvestasi untuk mengembangkan bandara baru di Kulonprogo," jelas Pandu.

Diakui Pandu, Bandara Internasional Adisutjipto banyak menerima permintaan penambahan jadwal penerbangan dari sejumlah maskapai, baik domestik maupun mancanegara. Kendati demikian, rata-rata permintaan penambahan penerbangan pada pagi dan siang hari.

"Sedangkan pada jam tersebut kami ada pembatasan, karena digunakan untuk penerbangan militer. Padahal kami masih memiliki 26 slot penerbangan dari pukul 16.00-00.00 WIB yang bisa dimanfaatkan untuk menambah jumlah penerbangan," papar Pandu. 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Ternyata Selat Hormuz Sudah Dilintasi Ratusan Kapal

Ternyata Selat Hormuz Sudah Dilintasi Ratusan Kapal

News
| Sabtu, 04 April 2026, 17:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement