Ini yang Bikin Ratusan Pengemudi Bentor di Malioboro Berang

Ratusan pengemudi becak motor (bentor) menggelar aksi demonstrasi di halaman kantor Gubernur DIY, Selasa (25/9/2018). - Harian Jogja/Irwan A. Syambudi
25 September 2018 19:50 WIB Irwan A Syambudi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pengemudi becak motor (bentor) mengeluhkan menurunya pendapatan sejak beberapa waktu terakhir sejak di larang mangkal di Malioboro. Mereka menuntut agar dapat kembali mangkal dan beroperasi di Malioboro.

Salah seorang pengemudi bentor, Didik Suparmadi mengaku sudah sejak sebulan terakhir pendapat menurun derastis. Pasalnya ia tidak dapat lagi untuk mangkal dan beroperasi di Jalan Malioboro. "[Pendapatan] menurun derastis ada sekitar 50%," kata dia kepada Harianjogja.com, Selasa (25/9/2018).

Penurunan itu diakuinya karena mayoritas penumpang bentor selama ini berasal dari Malioboro. Penumpang bentor kebanyakan adalah wisatawan baik wisatawan lokal maupun asing yang sedang berlibur.

"Biasanya kami cari penumpang wisatawan yang di Malioboro yang mau ke pusat bakpia atau batik. Sehingga jelas [setelah tidak boleh mangkal di Malioboro] sekarang pendapatan menurun," ungkapnya.

Didik berharap agar Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mengakomodir pengemudi bentor untuk dapat tetap mencari penghasilan. "Intinya berharap bentor masih bisa eksis dan masuk ke Malioboro. Kalaupun tidak bisa masuk kami tetap dibolehkan di sayap-sayap [Jalan Malioboro]," katanya.

Sebelumnya diberitakan ratusan pengemudi bentor yang tergabung dalam Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) mendatangi kantor Gubernur DIY, Selasa (25/9/2018). Mereka menggelar aksi menuntut agar Pemerintah Daerah (Pemda) DIY memberikan legalitas dalam beroperasi. Mereka mengaku selama ini sangat terbatas dalam beroperasi, karena dibatasi.

"Tuntutan kami agar kami tetap dapat mangkal dan lewat di Malioboro. Sekarang itu di Malioboro becak dan andong dibatasi," kata Ketua PBMY, Parmin saat ditemui di sela-sela aksi.