Merayakan Revolusi Ming pada Zhong Qiu Jie

Para anggota Hoo Hap Hwee berdoa sebelum acara Mooncake Festival berlangsung, di Kelenteng Poncowinatan, Senin (24/9). - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
27 September 2018 09:30 WIB Rheisnayu Cyntara Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Banyak kisah yang melatarbelakangi perayaan Zhong Qiu Jie atau Mooncake Festival. Namun dalam sambutannya, Ketua Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC), Jimmy Sutanto berkisah tentang revolusi.

Asal usul perayaan ini menurutnya bermula saat Tiongkok dikuasai Mongol. Yakni ketika kerajaan Mongol di bawah Dinasti Yuan (1280–1368) berkuasa. Dalam kurun waktu itu, pemberontakan untuk menumbangkan Dinasti Yuan berlangsung terus namun belum pernah berhasil.

Akhirnya di kisaran pada 1360-an, timbul gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh seorang petani bernama Zhu Yuanzhang. Ia memimpin gerakan perlawanan kepada penjajah Mongol. Zhu dan penasehatnya Liu Bowen menyebarkan desas-desus bahwa ada penyakit tak tersembuhkan dan hanya bisa dicegah dengan memakan kue bulan (mooncake) yang sudah dipersiapkan secara khusus yang kebetulan jatuh pada pertengahan musim gugur yaitu tanggal 15 bulan 8. "Ternyata itu cara untuk menyebarkan surat kepada sebagian besar rakyat yang mendukung pemberontakan menggulingkan penguasa Mongol," ucapnya Senin (24/9).

Penulisan pesan rahasia dilakukan dengan cara khusus dalam empat buah mooncake dan dikemas dalam satu kotak. Masing-masing mooncake itu harus dipotong menjadi empat bagian, sehingga total mendapatkan 16 potong yang kemudian harus dirangkai sedemikian sehingga pesan rahasia dapat terbaca. Tapi menurut Jimmy ada juga versi yang mengatakan bahwa pesan rahasia tersebut ditulis di kertas dan dimasukkan di tengah mooncake.

Singkat cerita, Dinasti Yuan tumbang dan bergantilah menjadi Dinasti Ming (1368–1644) dengan kaisar pertama adalah Zhu Yuanzhang. Untuk mengenang perjuangan dan titik balik berdirinya Dinasti Ming, sejak saat itu, Mooncake Festival diperingati secara rutin sampai sekarang.