58 Kalurahan di Gunungkidul Kekeringan, Dropping Air Bersih Diperluas
Kekeringan di Gunungkidul meluas ke 58 kalurahan. Sebanyak 75.486 warga mengalami krisis air bersih, BPBD terus menyalurkan bantuan.
Suasana belajar di kelas 2A dan 2B di SD Negeri Semanu. Rombongan belajar ini terpaksa digabung karena ada aksi mogok yang dilakukan FHSN, Senin (15/10/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Aksi mogok mengajar yang dilakukan oleh Forum Guru Honorer Sekolah Negeri (FHSN) Gunungkidul diwarnai isu tidak sedap. Ada kabar yang menyatakan pihak sekolah mengintimidasi para guru untuk segera mengajar.
Ketua FHSN Gunungkidul Aris Wijayanto membenarkan adanya intimidasi dari pihak sekolah. Meski demikian, ia enggan menyebutkan dimana lokasi tersebut terjadi. “Intinya ada dan untuk tempat kami terpaksa merahasikan,” kata Aris saat dihubungi wartawan, Selasa (16/10/2018).
Dia menjelaskan, aksi penekanan dilakukan dengan cara agar para honorer menyudahi aksi mogok. Namun dengan ancaman, kalau tidak segera masuk maka para honorer diminta berhenti selamanya dari tenaga pendidik. “Jelas kami kecewa karena itu sebagai bentuk ancaman,” tuturnya.
Menanggapi adanya tindakan intimidasi ini, Aris mengaku akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan seluruh perwakilan forum di Gunungkidul. “Ancaman ini harus disikapi,” tegasnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Koordinator Kecamatan FHSN Ponjong, Agung Tri Prasetyo. Menurut dia, aksi izin tidak masuk mengajar dilakukan secara baik-baik dengan meminta izin kepada pihak sekolah. “Aksi ini dilakukan demi memperjuangkan hak sebagai guru honorer,” katanya.
Agung menjelaskan, aksi dilakukan ditujukan ke Pemerintah Pusat untuk lebih memperhatikan nasib honorer. Ia menilai dari sisi ketugasan, baik guru tak tetap atau pegawai tidak tetap memiliki tanggung jawab yang sama dalam upaya meningkatan mutu pendidikan. “Saya kira peran kami juga sangat vital, jadi harapannya ada perhatian dari pemerintah dengan merespon apa yang menjadi disuarakan,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul Bahron Rasyid saat dikonfirmasi kemarin mengaku sudah mendengar isu terkait dengan adanya ancaman kepada guru honorer yang mogok kerja. Menurut dia, hal tersebut bukan sebagai ancaman namun hanya salah komunikasi semata. “Sudah kami selesaikan dan itu bukan ancaman karena para guru honorer tetap bisa melakukan aksi tersebut,” katanya.
Menurut dia, aksi yang dilakukan FHSN bukan ditujukan ke Pemkab Gunungkidul, melainkan ditujukan ke Pemerintah Pusat. “Aksi karena ingin memperjuangkan hak para honorer. Kami tidak mempermasalahkan itu, tapi harapannya tidak berrlarut-larut sehingga proses mengajar bisa kembali berjalan normal,” imbuh mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kekeringan di Gunungkidul meluas ke 58 kalurahan. Sebanyak 75.486 warga mengalami krisis air bersih, BPBD terus menyalurkan bantuan.
Hari Kanker Paru Sedunia, AstraZeneca mendorong penguatan navigasi pasien untuk mempercepat diagnosis, rujukan, dan pengobatan kanker paru.
Pieter Huistra menyebut progres PSS Sleman mencapai 70-75%. Fisik pemain 80%, sedangkan taktik 70-75% jelang Super League.
Vin Diesel mengungkap Fast Forever mulai syuting Desember 2026. Film utama ke-11 Fast & Furious ini dijadwalkan tayang Maret 2028.
Inklusi keuangan DIY mencapai 98,74 persen, peringkat kedua nasional. OJK masih fokus meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Kemenkes membangun rumah sakit lapangan di Ruteng untuk korban gempa. Fasilitas dilengkapi ruang operasi dan ditargetkan 100 tempat tidur.