Belajar soal Bencana, SMA di Jogja Ini Gelar Telekonferensi dengan Pakar dan Korban Gempa Palu

Siswa SMA Muhammadiyah 2 Jogja dan sejumlah siswa dari sekolah lain mengikuti teleconference kebencanaan, Jumat (19/10/2018). - Harian Jogja/Sunartono
19 Oktober 2018 14:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sekolah jadi salah satu objek yang disasar dalam upaya mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan bencana seperti DIY. Atas dasar itu, SMA Muhammadiyah 2 Jogja lantas menggelar telekonferensi tentang kebencanaan di Ruang Telekonferensi sekolah tersebut, Jumat (19/10/2018).

Kepala SMA Muhammadiyah 2 Jogja Slamet Purwo mengakui pentingnya materi kebencanaan diberikan kepada siswa. Pasalnya DIY termasuk daerah rawan bencana, sehingga mitigasi harus dilakukan.

Melalui bekal materi diharapkan siswa memiliki kemampuan bertindak ketika sewaktu-waktu terjadi bencana. "Kami berupaya memberikan materi itu langsung dari sumber dan ahlinya," terangnya, Jumat kemarin.

Dia mengatakan dalam telekonferensi tersebut, pihaknya menghadirkan pakar kebencanaan dari Universitas Syah Kuala Aceh Alfi Rahman dan Misnia seorang guru dari Palu yang merasakan langsung gempa tsunami sebagai narasumber. Selain itu, perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY juga didapuk memaparkan materi seputar kebencanaan di DIY. Kegiatan yang kali pertama ia gelar itu bertujuan menumbuhkan empati para siswa terhadap korban bencana, sekaligus memberikan pemahaman kepada siswa agar siap menghadapi bencana. "Siswa kami yang mengikuti merupakan perwakilan tiap kelas seperti siswa yang aktif di PMR dan siswa sebagai pemerhati bencana. Dari sekolah lain juga ada, total ada 50 pelajar yang ikut menyimak pemaparan kebencanaan ini," ucapnya.

Pengelola Kelembagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIY Ade Permata Sari berharap sekolah lain dapat mengikuti program yang dilakukan SMA Muhammadiyah 2 Jogja dengan kemandiriannya memberikan materi kesiapsiagaan bencana. Hal itu sejalan dengan program BPBD DIY yakni Sekolah Siaga Bencana (SSB) atau satuan pendidikan aman bencana.

Pihaknya menarget hingga 2022 sudah terbentuk 2.900 SSB di DIY dari jenjang TK hingga SMA/SMK. Kesiapsiagaan di sekolah harus dilakukan karena daerah rawan bencana di DIY ada 301 desa dari 438 desa di DIY. Di dalam desa rawan itu di dalamnya termasuk sekolah.

Selain yang tergabung dalam SSB, BPBD DIY mendorong sekolah non-SSB untuk tetap melakukan kegiatan kesiapsiagaan bencana. "Karena semua harus sadar bahwa kita tinggal di daerah rawan bencana," katanya.

Dia mengatakan dalam SSB butuh komitmen dan kepedulian seluruh komunitas sekolah bahkan seluruh warga masyarakat dengan radius 100 meter dari sekolah. Pada 2018 ini BPBD DIY lebih menyasar jenjang SMA/SMK karena TK hingga SMP sudah berjalan sejak 2012 hingga 2017. "Ada standar yang harus dilakukan ketika terjadi gempa di sekolah, misalnya harus sembunyi di bawah meja dan seterusnya. Ini harus dipahami sekolah, bagaimana cara mengevakuasi siswa, semua harus paham," kata dia.