Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida Dikaji, 32 Anak Divisum
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Foto kubah lava baru Merapi/Ist-BPPTKG
Harianjogja.com, JOGJA--Gunung Merapi memasuki fase erupsi magmatis sejak 11 Agustus 2018 lalu yang ditandai dengan munculnya kubah lava. Hal ini menunjukkan erupsi 2018 ini bersifat efusif dan sesuai dengan skenario di mana aktivitas paska letusan 2010 cenderung mengikuti kronologi aktivitas pascaletusan 1872.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani menjelaskan pascaletusan 1872 kubah lava baru muncul pada 1883 atau 11 tahun kemudian. Sedangkan pascaletusan 2010, kubah lava baru muncul pada tahun ini atau delapan tahun kemudian.
Dalam fase erupsi efusif ini maka pemantauan visual perkembangan kubah lava dan kestabilan lereng menjadi aspek pemantauan yang krusial dan prioritas. "Kubah lava muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dan tumbuh secara simetris. Volume kubah per 22
November 2018 mencapai 308.000 meter kubik dengan laju sekitar 3.000 meter kubik per hari terhitung dari awal munculnya," katanya melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Senin (26/21/2018).
Seiring dengan pertumbuhan kubah lava guguran lava mulai terjadi pada tanggal 22 Agustus 2018 yang dominan mengarah ke barat laut dalam area kawah. Material kubah lava 2018 saat ini sudah mencapai batas permukaan kubah lava 2010 hampir di semua arah termasuk pada arah bukaan kawah.
"Ini memungkinkan guguran material kubah dapat langsung meluncur ke luar kawah seperti yang terjadi pada tanggal 23 November 2018. Di tanggal itu berhasil diamati setidaknya ada empat kali guguran lava mengarah ke bukaan kawah, hulu Kali Gendol dengan jarak terjauh 300 meter," ucap dia.
Lebih lanjut, kata Kasbani, data pemantauan menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi yang menandakan masih berlangsungnya suplai magma. Berdasarkan laporan mingguan tanggal 16-22 November, tercatat kegempaan Gunung Merapi sebanyak 28 kali gempa hembusan (DG), dua kali gempa vulkanik dangkal (VTB), dua kali gempa fase banyak (MP), 261 kali gempa guguran (RF), dan 21 kali gempa low frequency (LF). "Jika kubah lava terus mengalami pertumbuhan maka kejadian guguran lava ini akan terus terjadi dan meningkat intensitasnya seiring dengan meningkatnya aktivitas kubah lava," katanya.
Untuk saat ini intensitas guguran masih rendah dengan potensi material yang juga masih kecil sehingga belum membahayakan penduduk. Berdasarkan pemodelan jika sebagian besar volume material kubah lava saat ini runtuh, maka awan panas dapat meluncur ke arah Kali Gendol sejauh 2,2 kilometer. "Perhitungan ini berdasarkan asumsi kondisi kubah lava tidak stabil," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Alex Marquez diduga melaju lebih dari 200 km/jam saat mengalami crash horor di MotoGP Catalunya 2026. Ini estimasi kecepatannya.
Pengadaan TKD pengganti YIA di Palihan dan Glagah masih stagnan. Warga khawatir dana ganti rugi hangus jika tak segera direalisasikan.
Penelitian terbaru menunjukkan AI mampu memperpanjang usia baterai mobil listrik hingga 23 persen tanpa memperlambat pengisian daya.
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.