Asyik, Tahun Depan Tiga Kecamatan di Bantul Ini Bakal Punya Posko Pemadam Kebakaran

Ilustrasi kebakaran. - Reuters
27 November 2018 15:20 WIB Rahmat Jiwandono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Tahun depan, Bantul akan menambah tiga posko pemadam kebakaran di tiga kecamatan, yakni Sedayu, Kretek, dan Piyungan. Hingga kini, di Bantul hanya ada empat posko pemadam kebakaran yang masing-masing berada di Kecamatan Wukirsari, Kecamatan Kasihan, Kecamatan Banguntapan, dan Kecamatan Bantul.

Manajer Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) BPBD Bantul, Aka Luk Luk Firmansyah mengatakan kebutuhan posko pemadam kebakaran di bantul terbilang sangat mendesak. Dengan semakin padatnya pemukiman di Bantulm tak bisa dipungkiri potensi terjadinya kebakaran juga bakal kian bertambah.

Terlebih, kawasan Sedayu yang beberapa tahun sebelumnya masih jarang penduduk, kini sudah kian padat. “Setelah Sleman memberhentikan izin membangun rumah, maka warga mulai melirik Bantul. Bantul saat ini mulai padat, jika padat akan berpotensi terjadi kebakaran,” ujar Aka kepada Harianjogja.com, Senin (27/11/2018).

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Dwi Daryanto mengatakan manajemen yang diterapkan oleh BPBD Bantul adalah wilayah mendirikan posko pemadam kebakaran di pinggiran Bantul. Wilayah yang berada di pinggiran seperti Sedayu merupakan perbatasan Kabupaten Bantul yang berada di sebelah barat, Kecamatan Kretek terletak paling selatan, serta Piyungan yang berbatasan langsung dengan Sleman dan Gunungkidul.

“Posko di Sedayu bisa menjangkau wilayah Pajangan, dan membantu kabupaten Kulonprogo, untuk wilayah Kretek mampu menjangkau daerah kecamatan Sanden, sementara untuk kecamatan Piyungan dipersiapkan untuk Kawasan Industri Piyungan,” kata dia.

Dengan menambah jumlah poskok, BPBD Bantul diakui Dwi bermaksud untuk mendekatkan bantuan pemadaman kebakaran kepada masyarakat. Pasalnya sesuai aturan yang berlaku, waktu respons tim pemadam kebakaran tak boleh lebih dari 15 menit saat terjadi kebakaran.

“Itulah sebabnya, jika posko tidak didekatkan dengan objek-objek yang rentan mengalami kebakaran maka hal itu akan merugikan masyarakat,” kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Bantul itu.

Disinggung soal anggaran, dia mengatakan nilai anggaran untuk satu posko pemadam kebakaran mencapai sekitar Rp450 juta. Selain empat posko yang sudah ada, sejak 2015 lalu, BPBD diakui dia juga sudah memiliki tiga unit mobil pemadam kebakaran yang sudah dikaroseri ulang. “Kalau untuk posko yang baru, kami menargetkan posko itu bisa diresmikan pada April 2019,” kata Dwi.

Sekadar catatan, berdasarkan data Pusdalops BPBD Bantul, peristiwa kebakaran yang terjadi dari sejak Januari hingga 10 Oktober 2018 terdapat 160 kasus. Puncaknya terjadi pada September lalu dengan total 42 kejadian kebakaran di Bantul.

Untuk kebakaran bangunan seperti gudang, rumah, kantor, warung, dan ruko mencapai 45 kasus. Paling banyak kebakaran rumah dengan jumlah 27 kasus. Penyebab kebakaran bangunan kebanyakan didominasi oleh korsleting listrik.

Sedangkan kebakaran lahan yang mencapai 57 kasus tercatat menjadi kejadian terbanyak di antara semua kejadian. Pada September saja tercatat ada 19 kasus. Penyebabnya adalah kelalaian manusia. Contoh ada warga bakar sampah, ternyata apinya belum benar-benar padam dan kabur terbawa hembusan angin yang membakar daun kering.