Bukan Mahasiswa UNY, Ini Penjelasan RSUP Dr Sardjito tentang Warga Jepang yang Dirawat di Ruang Isolasi
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Penulis buku, Muhammad Azwar (tengah) saat berbicara dalam acara peluncuran dan bedah buku Syahwat Politis yang Puitis: Kritik atas Puisi-Puisi Fadli Zon, di Basabasi Cafe, Sabtu (15/12/2018).Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, BANTUL—Cuitan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di akun Twitter-nya mendapat kritikan tajam dari sejumlah penikmat sastra. Sejumlah penyair muda dan kritikus sastra mengkritik cuitan yang oleh Fadli Zon diklaim sebagai sebuah puisi tersebut. Kritikan itu mereka tulis dan kumpulkan dalam sebuah buku kumpulan esai berjudul Syahwat Politis yang Puitis: Kritik atas Puisi-Puisi Fadli Zon.
Penerbitan buku itu merupakan inisiasi dari Himpunan Aktivitas Milenial Indonesia (HAM-I). Melalui buku tersebut, para aktivis yang tergabung dalam HAM-I bermaksud untuk menyadarkan Fadli Zon, bahwa puisi bukan sekedar bualan yang tiba-tiba.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) HAM-I, Muchlas Jaelani Samorano mengatakan cuitan-cuitan Fadli Zon di Twitter yang lalu diklaim sebagai puisi itu bisa merusak nuansa estetis dan pesan universal dari sastra. Menurut Muchlas, puisi yang ditulis oleh Fadli Zon tak lain sebagai kepentingan syahwat politiknya. "Meski dia memiliki latar karier kesusastraan, Fadli telah menyempitkan entitas puisi," ujar Muchlas saat ditemui di sela-sela peluncuran buku Syahwat Politis yang Puitis: Kritik atas Puisi-Puisi Fadli Zon di Basabasi Cafe, Jl. Sorowajan Baru, Tegal Tandan, Desa Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Sabtu (15/12/2018).
Puisi yang ditulis oleh Fadli Zon, menurut Muchlas memang tak lebih sekedar ungkapan syahwat politik untuk mendapatkan kekuasaan. Terlebih Fadli merupakan Sekjen Partai Gerindra sekaligus sebagai Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
“Contohnya Fadli pernah menulis puisi berjudul Ada Genderuwo di Istana. Puisi itu jelas untuk menyerang lawan politiknya. Buku antologi kritik puisi ini akan dikirimkan langsung kepada Fadli Zon sebagai kado akhir tahun,” kata Muchlas.
Penulis buku sekaligus panelis dalam peluncuran dan bedah buku tersebut, Muhammad Azwar menjelaskan sebuah karya sastra yang seharusnya bisa jadi penjernih keruhnya atmosfir politik justru dirusak oleh Fadli Zon. "Dia mengubah puisi yang pada dasarnya lahir dari kesadaran suci seorang penyair menjadi kreativitas kebencian," kata Azwar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.