Ahli Waris Pekerja Padat Karya Sleman Terima Santunan Rp74 Juta dari BPJamsostek
Ahli waris pekerja padat karya di Sleman menerima santunan JKM Rp74 juta. Capaian UCJ Sleman hingga Oktober 2026 mencapai 36,48%.
Makam Albertus Slamet Sugihardi yang dipotong salibnya, di TPU Purbayan Kotagede. /Harian Jogja-Abdul Hamied Razak
Harianjogja.com, JOGJA- Kasus intoleransi kembali terjadi di wilayah Jogja. Salib di makam Albertus Slamet Sugihardi, 60, warga Purbayan Kotagede, dipotong oleh warga dengan alasan adanya kesepakatan warga kampung.
Kasus pemotongan salib di Tempat Pemakaman Umum (TPU) tersebut terjadi pada Senin (17/12/2018) sekitar pukul 14.00 WIB. Banyak pihak menyayangkan peristiwa tersebut terjadi. Apalagi terjadi di kota Jogja yang diklaim sebagai kota kuat menjunjung toleransi beragama.
Peristiwa itu bermula ketika Slamet Sugihardi dinyatakan meninggal dunia. Sebelum meninggal, Slamet lebih dulu mendapat perawatan di RS PKU Muhammadiyah Jogja. Menurutnya, Slamet dirawat di PKU setelah keselek makanan sekitar pukul 08.00. Kematiannya dinilai mendadak.
“Nyawanya tidak tertolong. Kemudian dirembuk rencana pemakaman. Setelah ada kesepakatan dengan warga setempat, pak Slamet dimakamkan di makam kampung [TPU Jambon] yang tidak jauh dari kediamannya,” kata Albertus Sunarto Humas Gereja Santo Paulus Pringgolayan Banguntapan, Bantul, Selasa (18/12/2018).
Kebetulan, Slamet salah satu anggota jemaat gereja tersebut sehingga Narto juga ikut mengurus proses pemakaman. Dia juga berembuk dengan salah seorang sesepuh warga, Bejo Mulyono, agar Slamet bisa dimakamkan di TPU Jambon. Di TPU tersebut meski bukan TPU khusus Muslim tetapi digunakan oleh mayoritas muslimin.
“Awalnya tidak ada masalah. Karena itu makam kampung, siapa saja bisa dimakamkan di sana. Sampai akhirnya sekitar pukul 13.00, ada semacam reaksi dari warga kampung. Mereka tidak membolehkan Slamet di makamkan di tengah pemakaman tetapi di bagian pinggir. Oke, tidak ada masalah,” kata Narto.
Pusara yang awalnya berada di tengah, kemudian diganti ke pinggiran. Sebelum dikebumikan, ada permintaan lagi dari warga. Menurut Narto, keluarga tidak diperkenankan melakukan doa-doa sejak pemberangkatan jenazah hingga proses pemakaman di TPU selesai.
“Oke tidak masalah. Keluarga juga sepakati itu. Proses pemakaman berjalan, sampai akhirnya saya mendengar kalau saat salib ditancapkan ke pusara, ada warga yang memotong salib dengan cara digergaji,” katanya.
Salib yang dipotong tersebut tetap ditancapkan, termasuk bagian atasnya sudah terpotong. Praktis, hanya kayu berbentuk huruf “T” saja yang tertancap di pusara Slamet.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ahli waris pekerja padat karya di Sleman menerima santunan JKM Rp74 juta. Capaian UCJ Sleman hingga Oktober 2026 mencapai 36,48%.
Sebanyak 609 usaha homestay dan vila tercatat di Jogja. DPRD mendorong regulasi untuk memberi kepastian hukum dan mengatur potensi pajaknya.
Revitalisasi pasar di Sleman terkendala anggaran. Disperindag mengalokasikan sekitar Rp1,8 miliar untuk pemeliharaan 32 pasar pada 2026.
Bibit siklon tropis 91B berpotensi memicu hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir Oktober 2026.
Kulon Progo menargetkan TPT 1,90%-2,45% pada 2027 melalui pelatihan BLK, job fair, dan program padat karya.
Metranet dan Jayantara menjalin kerja sama untuk memperluas solusi digital di sektor pendidikan, mulai dari penerimaan peserta didik hingga pengelolaan