Angka Kekerasan Perempuan dan Anak di Kulonprogo Masih Tinggi

ILustrasi kekerasan anak - JIBI
23 Desember 2018 23:15 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Selama 2018, angka kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak di Kulonprogo masih tinggi.

Kepala Sub Pembinaan Ketahanan Keluarga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinas PMD Dalduk dan KB) Kulonprogo, Woro Kandini, menyebutkan pada 2017 tercatat ada sebanyak 129 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, sedangkan pada 2018 sudah ada 120 kasus yang terdata sejak Januari sampai November 2018.

"Kekerasan terjadi karena lemahnya nilai tawar perempuan di masyarakat. Kasus kekerasan yang terdata hanya yang dilaporkan kepada dinas," kata dia, Minggu (23/12/2019).

Ia menyayangkan masih banyak masyarakat yang enggan melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pasalnya, masyarakat menganggap tabu dan kasus itu mencoreng nama baik keluarga.

"Pernah terjadi seorang anak berusia tiga tahun menjadi korban pelecehan seksual oleh ayahnya. Namun ibunya melarang masyarakat sekitar melaporkan kasus itu kepada polisi maupun dinas terkait," kata Woro.

Menurut dia, kondisi ini memerlukan solusi dan komitmen kuat dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo. Namun selama ini belum ada komitmen kuat dari Pemkab dalam mewujudkan kabupaten ramah anak dan perempuan. Terlihat dari porsi anggaran yang belum optimal untuk melakukan sosialisasi hingga pemulihan psikologis korban kekerasan.

Sekretaris Kaukus Perempuan Politik Indonesia DIY, Novia Rukmi, mengatakan tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak disebabkan lemahnya daya tawar dalam politik. Pemilu 2019 idealnya menjadi momentum bagi perempuan untuk memiliki nilai tawar terhadap program calon anggota legislatif. "Supaya mereka pro terhadap perempuan dan anak," kata dia.