Empat Karya Arsitek Jadi Rekomendasi Penataan Kawasan Kumuh di Perbatasan Sleman-Jogja

Pelaksanaan penjurian sayembara penataan kawasan kumuh di Sleman belum lama ini. - Ist/IAI DIY)
26 Desember 2018 17:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sebanyak empat karya terbaik arsitek profesional akan menjadi referensi utama dalam penataan kawasan kumuh di perbatasan Sleman dan Kota Jogja tepatnya di kawasan Kalibuntung, Kutu Dukuh, Sinduadi, Mlati, Sleman. Empat karya tersebut telah melalui proses sayembara yang dihelat oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Sleman.

Ketua Bidang Sayembara IAI DIY Erlangga Winoto mengapresiasi langkah Pemkab Sleman yang melakukan penataan kawasan kumuh di area perkotaan. Apalagi penentuan desain dilakukan melalui proses sayembara sehingga hasilnya dipastikan adalah karya terbaik. "Berdasarkan proses penjurian yang independen dan akuntabel kami menetapkan ada empat karya terbaik," katanya Selasa (25/12/2018).

Adapun empat karya tersebut terdiri atas, juara pertama dari Tim A+A yang diketuai oleh Widodo Agung Nugroho dari IAI DIY, juara kedua adalah karya dari Tim Water Urbanism yang diketuai oleh Basauli Umar Lubis dari IAI Bandung. Sedangkan Tim Future Team yang dipimpin oleh Bayu Yunianto dari IAI DIY menjadi juara ketiga dan juara harapan diraih oleh Tim Beecons dari IAI DIY.

"Karya terbaik itu akan dijadikan sebagai rekomendasi untuk penataan kawasan kumuh perkotaan di Sleman, tepatnya si sepanjang bantaran Kalibuntung, Sinduadi, Mlati," katanya.

Penataan kawasan kumuh bantaran sungai di Kutu Dukuh, Sinduadi itu akan dilakukan sepanjang empat kilometer. Kawasan itu berbatasan langsung dengan Karangwaru, Tegalrejo, Kota Jogja yang lebih dahulu ditata oleh Pemkot Jogja. Karangwaru Riverside bahkan menjadi percontohan penataan kawasan kumuh di tempat lain.

Erlangga mengatakan, penataan itu batas penggal sisi utara adalah Ringroad Monjali, sedangkan batas penggal sisi selatan adalah MAN 3 Kota Jogja. Desain terpilih dinilai sudah memperhatikan aspek sosial penataan dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Ia berharap hasilnya akan lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat ketika sudah diterapkan.

"Karya ini sudah memiliki kerangka penataan baik dari sisi sosial kemasyarakatan, kesehatan, kebudayaan, konservasi, teknologi, ekologi, edukasi hingga ekonomi," katanya.

Sekretaris Pelaksanaan Sayembara Penataan Kawasan Kumuh Sleman Ahmad Saefudin Mutaqi menambahkan Proses penjurian dilakukan pada 16 Desember 2018 pada 16 karya yang masuk. Dari 16 karya tersebut kemudian disaring menjadi 15 terkait dengan administrasi. Dari 15 karya yang lolos seleksi administrasi kemudian diuji para juri untuk kemudian ditetapkan sebanyak enam karya.

"Kemudian yang terakhir kami memilih empat karya terbaik," ujarnya.