PBTY 2019 : Tidak Hanya Berbahasa tetapi Juga Berbudaya

Parade atraksi liong dan barongsai mewarnai pembukaan Pekan Budaya Tionghoa (PBTY) 2018 bertemakan Harmoni Budaya Nusantara di sepanjang jalan Malioboro, Jogja, Sabtu (24/2). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
03 Januari 2019 11:32 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAPekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) akan kembali digelar 13-19 Februari 2019. Kali ini lomba yang digelar untuk memeriahkan agenda tahunan ke-14 ini tidak hanya menekankan aspek bahasa tetapi juga budaya.

Panitia PBTY Koordinator Bahasa Mandarin Novita Dewi mengatakan lomba yang digelar dalam PBTY kali ini menjadi salah satu ajang untuk menyalurkan bakat para belajar. "Tidak hanya melulu soal berbahasa tetapi juga budaya. Penggunaan bahasa tanpa pengetahuan budaya dan sejarah terkadang membuat bingung siswa," katanya, Rabu (2/1).

Lomba budaya yang digelar antara lain jianzhi yaitu Chinese paper cutting yaitu salah satu seni memotong kertas menjadi bentuk-bentuk yang indah dan memiliki makna. Hasil dari jianzhi biasanya digunakan untuk hiasan suatu perayaan. Membutuhkan ketelitian, kesabaran dan logika untuk dapat memotong secara efektif dan efisien tetapi tetap rapi dan indah.

Selanjutnya ada shufa atau kaligrafi tulisan Mandarin. Novita menjelaskan shufa adalah seni menulis indah suatu huruf yang penuh makna atau idiom bahkan bisa dalam bentuk puisi. "Shufa semakin menambah makna dari suatu lukisan bahkan saat dia berdiri sendiri pun tetap nampak indah. Sistem penulisan yang masih klasik dan sesuai pakem, menjadikan shufa suatu seni yang bernilai tinggi," lanjut Novita.

Ada pula lomba treasure hunt game. Perburuan harta karun ini dilakukan dengan cara memecahkan atau menjawab pertanyaan mengenai budaya atau sejarah Tionghoa. Seperti banyak makanan Tiongkok yang familier di keseharian, seperti lumpia, capcai, bakpao, mi, dan lain-lain.

Lomba melukis tangan dengan henna juga melengkapi rangkaian lomba PBTY ke-14. Novita mengatakan walau henna bukan berasal dari Tiongkok tetapi tema lukisan bertema Imlek pasti akan semakin cantik.

Selain itu ada pula lomba membuat lilin hias. Lilin selain pengganti cahaya saat mati lampu, juga digunakan pada acara sembayang umat tertentu, bisa sebagai penghias meja, kamar mandi, kamar tidur agar lebih romantis. "Peserta akan langsung praktik membuat hiasan cantik," katanya.

Lomba-lomba tersebut menjadi wajah baru pada pelaksanaan PBTY 2019, kecuali lomba shufa. Novita menjelaskan pelaksanaan lomba shufa sudah pernah dilakukan pada PBTY 2018, hanya pada tahun ini akan semakin diperbanyak jumlah pesertanya dan variannya. Lomba-lomba di PBTY tidak sebatas kerajinan saja tetapi juga ada lomba karaoke lagu-lagu Mandarin dan lomba melukis batik PBTY.