Peneliti UGM Ubah Limbah Jadi Obat Antihama

Peneliti dari UGM Ronny Martien memperlihatkan nanokitosan kepada wartawan, Jumat (11/1/2019) di Kantor Humas UGM. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
12 Januari 2019 09:10 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ronny Martien berhasil mengolah limbah cangkang kepiting dan udang yang belum banyak digunakan menjadi nanokitosan untuk menekan hama pertanian yang ramah lingkungan.

Ia mengungkapkan pengembangan formula nanokitosan bermula dari keprihatinannya terhadap penggunaan pestisida yang cukup tinggi untuk membasmi hama di perkebunan sayur dan buah daerah Ngablak, Kopeng, Jawa Tengah.

"Penggunaan pestisida dalam jumlah besar yang dilakukan para petani memang mampu mengurangi serangan hama perkebunan, tetapi ini berbahaya," kata, Jumat (11/1/2019) di Kantor Humas UGM.

Dia menjelaskan iklim tropis di Indonesia menjadikan kawasan rentan terhadap serangan hama terutama jamur dan bakteri. Pasalnya, iklim tropis dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi menyebabkan jamur, bakteri, maupun serangga mudah tumbuh dan berkembang biak.

"Jadi tidak akan pernah selesai dengan urusan hama ini, tetapi mau sampai kapan kita membasmi serangga memakai pestisida," ucap dia.

Karena telah lama menekuni kajian nanopartikel, muncul ide untuk membuat nanokitosan guna melindungi tanaman dari hama. Dia memanfaatkan limbah cangkang kepiting dan udang yang mengandung senyawa kitin menjadi kitoszm dalam ukuran nuno partikel berwujud cair.

"Bukan seperti pestisida yang membunuh hama, tetapi nanokitosan disemprotkan untuk melapisi tanaman sehingga melindungi dari serangan hama," jelas dia.

Pakar nanoteknologi ini mengungkapkan nanokitosan tidak hanya mampu melindungi tanaman dari serangan hama, tetapi juga dapat menyuburkan tanaman karena mempunyai kemampuan mengikat unsur hara di alam sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

"Nanokitosan juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet organik makanan. Misalnya, untuk mengawetkan buah, sayur, ikan maupun bahan pangan lainnya," ucap dia.

Sahdi, salah seorang petani asal Lombok, mengaku mendapatkan banyak manfaat dan keuntungan dengan aplikasi nanokitosan pada tanaman padi di daerahnya.

Tanaman padi dapat tumbuh lebih baik dengan daun yang banyak dan lebih hijau serta kerapatan tanaman lebih padat dibandingkan dengan tanaman padi yang tidak diberi nanokitosan.

"Yang tidak diberi nanokitosan tumbuhnya jarang-jarang dan warna daunnya kuning," kata dia.

Dia menambahkan hasil panen semakin meningkat. Sebelumnya dari satu hektare lahan hanya menghasilkan tujuh ton, tetapi dengan aplikasi nanokitosan menghasilkan panen 13 ton padi.