Tambak Udang Temon Tergusur Proyek Bandara

Sejumlah petambak bersama pembeli menyortir udang di tepian tambak kawasan Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kamis (26/7 - 2018).Harian Jogja/Uli Febriarni
23 Januari 2019 18:00 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo mengusulkan penambak udang di selatan proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon direlokasi ke Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur.

Di Trisik yang akan dibuat zona tambak udang, nantinya lahan seluas 25 hektare di kawasan Trisik diperluas sampai 75 hektare. DKP masih menunggu persetujuan dari Pemerintah Daerah DIY untuk merealisasikan rencana relokasi.

Kepala DKP Kulonprogo Sudarna mengungkapkan usulan ini berkaitan dengan rencana penyegaran pengosongan lahan tambak udang di selatan proyek bandara. Penyebabnya, pada awal Maret mendatang kawasan tersebut akan dibangun penyangga bandara dan sabuk hijau.

Saat ini DKP dalam proses sosialisasi kepada penambak udang di selatan proyek NYIA. Sosialisasi ini dilakukan dengan mengumpulkan penambak udang sebagai upaya meminimalksn kerugian para penambak yang akan timbul jika pembangunan dilakukan. “Bagi yang mau menebar benih agar bisa menyesuaikan dengan waktu,” paparnya, Rabu (23/1/2019).

Sudarna mengungkapkan lahan tambak udang di sisi selatan bandara memang tidak sesuai rencana tata ruang wilayah (RTRW). Adapun, DKP tetap mengapresiasi para penambak udang yang telah berusaha budi daya udang secara mandiri.

Dia menyadari potensi budi daya udang sangat tinggi namun karena NYIA merupakan proyek strategis nasional, maka dia meminta agar didukung semua pihak. Dia juga mengaku akan akan mengkaji potensi lokasi.

Rencana pengosongan lahan tambak udang ini menuai berbagi reaksi para penambak. Salah satunya penambak udang di Desa Palihan, Kecamatan Temon, Muhri. Dia berharap langkah ini dibarengi dengan solusi pemerintah agar dirinya tetap bisa membudidayakan udang tambak.

Muhri mengaku dirinya terpaksa menambak di selatan Bandara NYIA karena tidak ada lahan lain. “Mau di mana lagi karena yang bisa untuk menambak itu di sini [Temon], kalau di tempat lain sulit,” ucapnya.

Penambak udang di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Purwoko, mengharap pemerintah ataupun pemangku kepentingan lainnya punya kebijakan khusus sebelum pengosongan lahan dilakukan. Sebab, dia mengaku baru tebar benih selama 10 hari belakangan. Jika harus dipindah dia mempertanyakan masa depan produksi tambak udangnya.